Universalitas dan Para Spesialis

Posted on Agustus 4, 2007

1


Dalam diri seorang spesialis, kadang kita melihat ada permasalahan yang cukup krusial. Permasalahan tersebut menyangkut permasalahan dengan tereduksinya konsep pengetahuan pada dirinya menjadi pengetahuan spesialis namun tidak memiliki basis konsepsi universal. Sebagai contoh, seorang saintis atau teknolog kadang langsung mengalami kegagapan ketika harus menerangkan kaitan ilmu yang dipelajarinya dengan perusakan lingkungan, atau dengan strategi politik–ekonomi global apalagi dengan konsekuensinya sebagai mahluk beragama.

Disatu sisi, banyak para praktisi gerakan baik itu Gerakan Mahasiswa, Dakwah ataupun Pemberdayaan Masyarakat kehilangan basis detail terhadap apa yang menjadi obyek gerakannya. Meraka banyak mempelajari, mengamati dan merefleksikan keadaan universal namun mereka benar-benar kesulitan untuk menerangkan terhadap hal-hal detail yang seharusnya tidak mungkn terlepas dari apa yang harus mereka gerakan. Akhirnya bukanlah sesuatu yang aneh bila seorang Ustadz, Aktivis Sosial, Orang Parpol dan Ormas mendrive isu secara sporadis dan bahkan sejatinya mereka terombang-ambing dengan isu-isu yang tidak memiliki basis detail yang memadai.

Hal ini sebenarnya berawal dari konsep pembelajaran di negeri ini. Dimana ada salah kaparah dengan makna kata Universitas. Kata tersebut seharusnya mengambarkan sebuah sebuah institusi yang mengajarkan sebuah Universalitas. Sehingga walaupun dibagi dalam bentuk Fakultas-fakultas, hakekat pengetahuan yang mereka dapat seharusnya tetap universalitas bukan fakultatif.

Penyebab kedua adalah mental ‘pekerja’ yang ada pada sebagian besar para mahasiswa dan pengajar di universitas. Seseorang yang bersekolah dengan motivasi untuk menjadi seorang pekerja an sich tentu saja akan menghambat masuknya sesuatu yang lebih luhur dari sekedar ketrampilan praksis, status sosial dan ijazah yaitu makna dan nilai dari ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Demikian juga paradigma ‘pekerja’ yang ada pada para dosen, dengan paradigma pengajaran yang ingin mendapatkan secepatnya para ‘tenaga ahli’ tanpa menekankan aspek kedewasaan, makna dan nilai sebuah ilmu pengetahuan akan membuat mereka bahkan menolak berbagai pengetahuan dasar dan wajib yang (walaupun sangat minimal) seharusnya menjadi dasar untuk mencapai makna, nilai dan universalitas ilmu tersebut.

Sebagai contoh fenomena yang terjadi di sebuah jurusan di fakultas teknik. Ketika ada mata kuliah Filsafat Ilmu atau agama, banyak mahasiswa yang menjadikannya sebagai matakuliah ‘asal lulus’ semata. Mata kuliah seperti itu dianggap tidak fungsional dan tidak berhubungan dengan kerja mereka. Mata kuliah seperti itu hanya membuat beban SKS mereka bertembah dan memang dosen di kelas kuliah tersebut tidak mampu membuat mata kuliah mata kuliah tersebut menjadi nyambung dengan mereka. Jangankan akan menyampaikan pesan bahwa seorang teknolog juga harus beragama atau harus bijak dan tahu makna, nilai teknologi, masuk kuliah saja mahasiswa malas karena dianggap tidak ada pengaruhnya terhadap propek kerjanya nanti. Belum lagi rekayasa dosen-dosen lain yang ‘lebih jelas’ nyambungnya dengan ‘prospek kerja’ yang seakan mendukung penghapusan mata kuliah-mata kuliah tadi.

Penyebab yang lain adalah adanya dikotomi dari konsep ilmu kita. Ketika di SMA seorang siswa sudah dibiasakan untuk memilih IPA atau IPS yang sejak SD mereka tahu perbedaaanya yang kadang ‘dodoktrinkan’ tanpa sengaja oleh guru SD mereka bahwa keduanya adalah sesuatu yang berbeda dan bahkan tidak memiliki hubungan sama sekali. Bahkan ternyata bukan hanya dikotomi IPA dan IPS, sejak SD mereka ‘didoktrinkan’ adanya keterpisahan IPA dan IPS dan juga dengan Agama dalam bentuk adanya sekolah umum dan sekolah agama. Dan ketika di SMA mereka mengenal pemisahan lain yaitu Bahasa (baca: jurusan bahasa). Repotnya lagi, tidak ada yang bisa memberkan kepada mereka bahwa pilihan jurusan studi yang mereka pilih tersebut bukanlah berarti menjadikan mereka sosok yang tidak peduli dengan yang lain. Kita tahu dalam sejarah seorang ahli Kedokteran seperti Ibnu Sina memiliki basis pengetahuan universal berupa agama, bahasa, dan filsafat.

Memang, bila ingin mengurai siapa yang salah, kesalahan bukan saja terjadi pada para dosen dan mahasiswa tadi. Kesalahan terjadi pada budaya yang berkembang pada masyarakat kita. Agaknya para konseptor pendidikan kita jaman dahulu sudah terlampau jauh mendahului realita kebudayaan kita, dan ironisnya pendidikan yang seharusnya sebagai rekayasa untuk mengubah budaya secara positif malah terkapar dengan budaya-budaya negatif yang terdapat pada masyarakat kita.

Dalam tulisan ini saya menganggap budaya sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai. Budaya adalah sesuatu yang bisa kita hakimi sebagai budaya negatif dan budaya positif. Dan budaya posisitif harus kita gali dan kita kembangkan termasuk dalam pendidikan kita, sedangkan budaya negatif harus kita musnahkan termasuk dalam rekayasa sistematik berupa pendidikan.

Nah, bila hal diatas yang terjadi maka apa yang akan terjadi pada generasi kita di kemudian hari ? Pendidikan kita hanya akan terus memproduksi manusia-manusia sakit. Seorang spesialis hanya akan menjadi seseorang yang memiliki kebanggan semu. Mereka mungkin akan bergelimang kemakmuran dunia, namun kebutuhan mereka akan sesuatu yang universal tetap tidak mungkin terbendung. Meraka memang ahli dalam spesialis yang mereka kuasai, namun mereka tertatih tatih untuk mencari penjelasan mengapa dunia ada penindas dan tertindas, mereka ada mereka seakan menjadi robot semata dalam sebuah perusahaan atau proyek tanpa punya kemampuan untuk ‘mendakwahi’ perusahaan multi nasional tempat mereka bekerja agar tidak merusak lingkungan, memperhatikan keselamatan penduduk sekita atau bahkan ber Islam dan menzakatkan keuntungannya. Atau bagi para dosen, mereka juga hanya kebingungan mencari penjelasan kenapa koleganya mengikuti jama’ahnya Stephen Hawkins yang meniadakan konsep Tuhan dalam kehidupan mereka. Jangankan sampai level tersebut, untuk menerangkan mengapa mereka memilih model keagamaan Instan dengan cukup menggantungkan diri pada bentuk-bentuk Usroh , Liqo’ dan sejenisnya tanpa memiliki kemandirian belajar dan berfikir atau bahkan beribadahpun tidak mampu mereka terangkan. Apa yang kita harapkan pada generasi seperti ini ! Generasi spesialis yang kehilangan realitas kesejatian. Ironisnya kecenderungan ini salah ditangkap oleh sebagian golongan masyarakat kita sebagai peluang dakwah. dalam pembinaan keagamaan mereka tidak kemudian dibuat independen, namun malah terus dibuat dependen.

Rekayasa Menuju Kesadaran Profetis

Mungkin bagai mereka yang sudah terlanjur menjadi spesialis yang kehilangan realitas kesejatian seperti diatas cukuplah bertanya pada nurani mereka untuk menjaga diri dari kesalahan-kesalahan yang lebih besar. Cukuplah untuk mengulang konsepsi mereka tentang tauhid dimana tidak ada yang boleh mengekang di kehidupan kita, apapun itu, kecuali Allah SWT. Cukuplah mereka untuk menyadari dan menghitung seberapa besar andil mereka terhadap penindasan kemanusiaan dalam bentuk perusakan lingkungan, peminggiran hak-hak pendudukan asli atau terhadap kerusakan Ozon yang telah mereka lakukan akibat penemuan mreka. Cukuplah mereka menyadari dan bertaubat bila ternyata selama ini mereka hanya menjadi manusia-manusia egois yang hanya memikirkan diri mereka, keselamatan diri mereka, tabungan putra-putrinya.

Namun bagi generasi kita kedepan, adalah sebuah kekonyolanbisa kita biarkan kondisi ini terus berjalan. Kesalahan tidak boleh terjadi dua kali. Keledaipun tidak mau terperosok lagi dalam lubang yang sama. Karena itu dibutuhkan rekayasa besar untuk merubah cara pandang ummat, masyarakat, bangsa atau bahkan dunia terhadap konsep pengetahuan ini.

Islam sebagai sumber metodologi berfikir yang harus memiliki basis universalitas sekaligus spesialisasi yang tidak mereduksi diri menjadi spesialis semata untuk membangun kesadaran risalah profetik demi melakukan perubahan dalam realitas sejarah dan kebudayaan tentunya akan menjadi pekerjaan rumah kita di kemudian hari. Spesialis juga manusia. Saintis juga manusia. Teknolog juga manusia. Karena hakekat manusia adalah khalifah fil ard. Agen perubahan. Agen rekonstruksi peradaban.

Wallahu ‘Alam Bissawab

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Sains