The Underground Scienties

Posted on Agustus 4, 2007

0


Dalam sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan, kemudian dikenal perbedaan-perbedaan antara Pengetahuan (knowledge) dan Ilmu (Science). Dikatakan bahwa pengetahuan berarti sesuatu yang diketahui oleh manusia, sedangkan Ilmu adalah pengetahuan yang sudah sistematis.

Definisi ini telah menjadi pemakluman oleh komunitas Ilmiah saat ini. Yang kemudian melahirkan definisi baru dalam kompetensi manusia. Yaitu adanya Ilmuan (Scienties). Adalah sesuatu yang kemudian dimaklumi bahwa seseorang yang memiliki kompetensi dalam hal pengetahuan yang sistematis kemudian memiliki sebuah predikat tertentu. (Saya membicarakan kompetensi, bukan profesi)

Predikat ini kemudian berkembang dalam hal syarat-syarat untuk menyandangnya. Walaupun sejatinya adalah sulit untuk mencari seseorang yang serta merta mengakui dirinya ilmuan. Bisa jadi Albert Einstein-pun yang oleh banyak orang diakui sebagai ilmuan besar di abad ini tidak pernah menyatakan dirinya seorang ilmuan. Namun paling tidak, ketika seseorang menyatakan dirinya memiliki dedikasi kepada pengembangan ilmu pengetahuan sama saya dia “bersedia” (bukan meminta) disebut sebagai ilmuan.

Nah, hingga disini mungkin tidak ada persoalan. Yang kemudian menjadi persoalan, haruskan seorang ilmuan selalu merupakan produk sebuah institusi akademik ? Tidak bisakah seorang ilmuan merupakan produk non-akademik ?

Bila kita kembali lagi melihat sejarah, tidak semua ilmuan dunia merupakan produk dari sebuah institusi akademik (institusi akademik disini diartikan sebuah sekolah, perguruan tinggi). Dan kita tahu, institusi akademik juga merupakan sebuah hasil penemuan ilmiah dari para ilmuan. Namun mungkinkah saat ini kita menghasilkan seorang ilmuan tanpa harus melalui sebuah proses pembelajaran di sebuah institusi akademik ?

Tanpa harus kemudian menolak institusi akademik atau menolak ilmuan produk institusi akademik, sebenarnya sangat perlu kiranya untuk membuka kesempatan munculnya ilmuan diluar dari produk institusi akademik. Hal ini sangat perlu bila kemudian definisi ilmuan tidak serta merta direduksi dalam sebuah definisi gelar-gelar akademik semata. Sekolah memang susah, butuh pengorbanan dan biaya yang besar. Apakagi bila kemudian harus menempuh berbagai program pendidikan hingga strata dua dan tiga. Namun bagi mereka yang berkesempatan sekolah tidak perlu kiranya untuk menuntut bahwa predikat ilmuan hanya menjadi milik mereka sendiri. Hal ini menjadi penting, agar bisa membentuk masyarakat ilmiah yang memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk memiliki kompetensi seorang ilmuan.

Namun mungkinkah ilmu yang sangat spesialis dewasa ini didapat tanpa harus menempuh pendidikan di sebuah institusi pendidikan ? Sebelum menjawab mungkin tidaknya impian ini, hal yang perlu dilakukan dahulu adalah bagaimana menemukan upaya maksimal agar akses terhadap ilmu pengetahuan sudah didapat semua warga negara sejak lahir. Dengan demikian, ilmu pengetahuan memang sebuah sistem yang spesialis, namun bila sejak kecil seorang manusia bisa dengan mudah memperoleh segala macam hal yang berkaitan tentang ilmu pengetahuan secara bebas, maka tidak perlu kiranya ketika seseorang yang dimasa dewasanya kemudian menekuni ssebuah spesialisi ikut-ikutan mereduksi dirinya dalam “dunai sempit” spesialisasinya semata. Dalam bahasa organisasi Mahasiswa yang saya ikuti dahulu : Menjadi Spesialis didalam pribadi Humanis serta Keimanan yang Paripurna.

Nah, bilamana seorang Underground Scienties (Saintis tanpa institusi pendidikan formal) bisa lahir ? Jawabannya : Ketika manusia memiliki kebebasan memperoleh informasi ilmu pengetahuan semenjak lahir. Apa arti bebas disini ? Bebas dalam artian :

  1. Tidak ada fihak-fihak yang menghalangi untuk memperoleh informasi tentang Ilmu Pengetahuan.
  2. Tidak ada “Noise” dalam memperoleh informasi dan mempelajari ilmu pengetahuan baik dalam bentuk : tekanan intelektual, psikologis, ekonomis, sosial ataupun teologis. Dan yang ketiga,
  3. Ada banyak “orang pintar” ( lagi bijak) yang merelakan diri untuk menjadi manusia-manusia pembelajar dalam artian selalu menjadi orang yang selalu ingin belajar sekaligus mau mengajarkan pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang dia mengerti dan menjamin tidak menjadi penyebab adanya “Noise”. .

Mungkinkah…? Mungkin pertanyaan ini kurang tepat. dan mari pertanyaannya kita ganti :

Seberapa besar Potensi diri Kita sebagai penyebab timbulnya “Noise” ?

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Sains