Sains-Teknologi, Etika dan Wahyu

Posted on Agustus 4, 2007

2


Ketika berbicara sains, kadang menjadi salah kaprah ketika selalu dinisbatkan kepada ilmu-ilmu alam semata. Karena pada kenyataannya seorang saintis adalah seorang yang mendalami suatu pengetahuan yang sistematis atau kemudian disebut sebagai ilmu. Ilmu bisa dianggap sebagai sains. Apapun ilmu itu. Sehingga kemudian pada kenyataannya kita mengenal natural science, Economic science, Social Science dan banyak lainnya. Dalam hirarki filsafat ilmu kemudian dikenal sebagai turunan dari filsafat. Filsafat sebagai sarana pencrian hakekat ‘sesuatu’ yang kemudian menghasilkan pengetahuan, ketika pengetahuan tersebut telah mencapai sebuah sistematika tertentu maka akan disebut ilmu. Kemudian sains ketika diterapkan akan menjadi sains terapan, dan ketika menemukan bentuk praksisnya berdasarkan rekayasa dan kemanfaatannya akan berubah menjadi teknologi. Teknologi pada awalnya juga hanya merupakan ilmu rekayasa yang membasiskan pada dasar-dasar yang dianut pada natural sains, namun belakangan kemudian dikenal adanya social engineering. Asumsi bahwa natural science selalu kuantitatif dan social science selalu kualitatif ternyata juga tidak berlaku lagi. Sehingga batas antara eksakta dan sosial kemudian bukan berada pada metode atau konsep filsafat ilmunya, namun berada pada jenis obyek yang diamati.

Namun, kesimpulan terakhir di atas menjadi sulit diterapkan ketika kita melihat pada Psikologi contohnya. Seperti yang kita tahu, saat ini ada dua aliran besar di Indonesia pada jurusan Psikologi yang menganggap bahwa psikologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam dan ada kelompok lain yang mengangap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan sosial. Secara praktis kita bisa melihat dalam pengelompokan jurusan pada SPMB, di UGM Psikologi masuk dalam kelompok IPS sedangkan di UNDIP masuk dalam kelompok IPA.

Dimana matematika ? Matematika sejatinya berada pada wilayah lain, yaitu wilayah kuantitatif yang merupakan wilayah logika atau pemodelan kenyataan menjadi model-model yang hanya ada pada khayalan. Sehingga dalam praktiknya kita tahu ketika matematika diterapkan pada suatu bidang sains (apapun bidangnya), sains tersebut akan menemukan bentuk kuantitatifnya. Dengan melakukan pendekatan kuantitatif, maka biasanya sebuah ilmu akan ‘dianggap’ menjadi semakin prediktif. Ketika sebuah sains berubah menjadi engineering maka kuantitatifikasi akan semakin besar. Hal itulah yang menyebabkan mengapa kemudian sebuah bidang engineering menjadi sangat materialis-literal (dhahirriyah), kuantitatif-matematis dan prediktif sekaligus manipulatif.

Sains dan Engineering kemudian menjadi berbeda karakteristik secara mendasar. Sains yang berkembang dalam paradigma ‘terpisahnya pengamat dari obyek’ dan ‘sains untuk sains’ sehingga yang dikejar adalah obyektifitas sejati yang memisahkan manfaat/ kegunaan dari aktifitas penelitian. Sedangkan Engineering berkembang dalam paradigma ‘kegunaan untuk kehidupan manusia’ atau lebih dekat dengan filsafat pragmatisme sehingga manusia dianggap sebagai bagian integral dari pengembangan engineering. Dalam praktiknya, khususnya di Indonesia, seorang engineering (khususnya mahasiswa teknik) sering mengabaikan unsur manusia dalam aktifitasnya, karena menganggap dirinya adalah bagian dari komunitas IPA/eksakta murni. Sehingga kadang ada kecenderungan ‘menolak’ ketika mendapat mata kuliah-mata kuliah tentang humanism. Padahal engineering yang tidak humanis tentu saja hanya akan membuat kerusakan pada manusia dan lingkungan.

Ilmu Politik ketika menemukan bentuk praksis nya (politik Praksis) juga merupakan sebuah Engineering. Seperti halnya ilmu kedokteran ketika menjadi kedokteran klinik akan kental aspek engineeringnya. Bahkan mungkin saja saat ini mulai berkembang sebuah bidang ilmu ‘spiritual engineering’ yang berfungsi merekayasa aspek spiritual manusia.

Dimana Etika ? Nah kemudian yang sering manjadi masalah adalah karena tidak include-nya antara etika dengan sains dan teknologi. Dalam sains dan teknologi etika berfungsi untuk membimbing agar aktifitas penelitian sains dan rekayasa Teknologi tidak mengancam eksistensi manusia (keseluruhan aspek manusia : Jasad, Ruh, dan Intelek). Bahkan dengan masuknya etika sebagai bagian dari sains dan teknologi bertujuan agar bisa meningkatkan nilai tambah manusia di mata dirinya, sesama manusia, lingkungan hayati dan non hayatinya, dan dimata Tuhannya. Dalam kata lain : Manusia menjawab pertanyaan ‘Apa’ dengan sains, manusia menjawab pertanyaan ‘untuk apa’ dengan teknologi, manusia menjawab pertanyaan ‘mana yang boleh dan tidak’ dengan etika. Etika ini merupakan sesuatu yang bersumber dari hati nurani yang selalu menyuarakan kebenaran moral atau sering dikenal sebagai suara Tuhan. Karena itu dalam hubungannya dengan wahyu, Fitrah merupakan ‘sesuatu’ yang dipanggil oleh wahyu .

Arif Nur Kholis
Antara Bulaksumur dan Matahari
“Refleksi Sains-Tech.”

[Refleksi-refleksi yg nyaris tidak beerguna]

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Sains