Pendidikan Tanpa Refleksi

Posted on Agustus 4, 2007

1


Dalam sejarah timbulanya ide, ada tahap-tahap yang perlu dilakukan agar ide tersebut lahir. Pertama dibutuhkan adanya informasi. Kedua dibutuhkan adanya proses pemahaman. Ketiga perlu ada proses koneksi dengan masalah-masalah yang dianggap berkaitan. Baru kemudian akan timbul ide yang siap melalui sebuah ujan empiris. Kesemuanya memiliki eleman yang disebut fefleksi. Yaitu proses yang seorang individu tersebut menyukai bahkan membutuhkan untuk melakukan proses-proses tersebut sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan. Refleksi adalah kebutuhan yang sangat hakiki dari seorang manusia. Jiwa akan mendapatkan makanan dari pengajaran dan membaca buku, namun proses “pengunyahan” makanan jiwa adalah proses refleksi. Hasil positif yang berupa “tenaga” adalah timbulnya ide kreatif yang bisa memecahkan masalah mnimal dirinya sendiri.

Dalam budaya pendidikan kita saat ini sepertinya proses refleksi ini tidak mendapat tempat yang cukup. Proses pendidikan kita seakan memasukkan sebanyak mungkin “bahan baku” kemudian mengharap para anak didik kita sama dengan apa yang kita masukkan. Bukan menjadi diri mereka sendiri. Sehingga kita menganggap anak didik sebagai mesin komputer yang kita program bukan substansi organik dan jiwa yang bisa menghasilkan “sesuatu” yang sama sekali baru.

Dalam realitas pendidikan kita, kita bisa melihat seorang anak didik hanya dikejar untuk mendapatkan nilai sebagai standarprestasi akademik. Bukan merangsang mereka untuk menghasilkan ide-ide kreatif setelah kita memberikan beberapa “kebenaran” dari orang lain. Seakan institusi pendidikan kita adalah sebuah pusat instal komputer, bukan sebuah lembaga pendidikan yang sama sekali lain dengan pusat instal komputer.

Korban globalisasi.

Dalam era globalisasi ini, saat ini negara-negara berkembang hanya menjadi satelit negara-negara maju. Dengan logika waralaba, seakan negara-negara berkembang hanya menjadi pemegang merek negara-negara maju. Akhirnya isu krisis identitas bangsa merebak ke permukaan.

Dalam dunia pendidikanpun seakan negara-negara berkembang itu tidak sadar untuk dimanfaatkan oleha negara-negara maju. Demi kepentingan kapital dan politik yang membutuhkan para profesional dan birokrat yang patuh tanpa banyak elaborasi sistem pendidikan diorientasikan dalam pengabdian seperti itu. Negara-negara maju selain memaksakan sebuah tatanan dunia terbuka ternyata membangun sebuah sistem proteksi yang lebih sulit ditembus oleh masyarakat negara berkembang. Ketika pasar bebas dibuka lebar, sistem proteksi seperti sertifikasi bebas hama, sertifikasi tenaga kerja memalui TOEFL, atau sistem-sistem proteksi yang ditetapkan secara sefihak oleh pemegang modal ternyata gagal ditanggapi secara kritis oelh negara-negara berkembang.Adalah sebuah fenomena ironis bila dikemudian hari seorang warga negara Indonesia yang berotak encer harus tergusur dari kesempatan memperoleh kerja di Indonesia hanya karena tidak memenuhi standar TOEFL. Bila alasannya adalah akses terhadap informasi dunia yang berbahasa inggris, tentunya sekarang sudah ada teknologi translator yang cepat. Sekali lagi menguasai bahasa apapun di dunia ini sangat perlu, namun sistem TOEFL sebagai sebuah sistem sertifikasi hanyalah pembodohan negara barat terhadap negara berkembang.

Kembali kepada permasalahan pendidikan, akhirnya pendidikan kita hanya mengejar standar “kebaikan” yang ditentukan oelh dunia barat. Sekali lagi yang menyebabkan ini adalah karena terpusatnya kekuatan modal dan politik dunia pada negara-negara maju. Bila kemudian ada pesaing lain, semisal Jepang atau Arab, bisa saja di kemudian hari sistem sertifikasdi ini akan memiliki beberapa standar. Akhirnya program yang diinstalkan kepada anak didik hanyalah program versi negara maju.

Sekali lagi, bukannya anti barat atau anti negara maju. Namun berilah kesempatan kepada anak didik untuk berefleksi tentang dirinya, Tuhannya, alam dan masyarakat. Berilah ruang untuk mengolah fikir bukan sekedar menginstal otak. Berilah sedikit ruang untuk menghidupkan aspek “irfan” pada diri seorang anak didik, yang kemudian bisa berdialog dengan hati nuraninya. Berilah waktu kepada setiap anak didik untuk berproses dengan sadar dan rela bukan hasil paksaan ataupun kesadaran artifisial.

Berefleksi, bertefakkur adalah sebuah proses untuk membuka pintu langit. Untuk mendialogkan apapun informasi yang didapatkannya dengan realitas diri, dengan kebenaran yang sedang dicarinya, dengan hati nurani yang telah terisi pengetahuan tentang nilai sejak ruh ditiupkan dalam raga. Ketika bakal manusia tersebut berikrar bahwa Allah adalah Rab-nya.

(Arif)

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


Posted in: Pendidikan