Pencarian Otentisitas Sains Islam

Posted on Agustus 4, 2007

3


Islamisasi Sains,….?

Di akhir abad ke 20, khususnya sekitar akhir tahun 1970 an hingga awal abad ke -21 ini, wacana Islamisasi Sains telah menjadi bagian dari pergulatan pemikiran para Ilmuan Islam. Berkembangnya wacana ini biasanya didasari oleh adanya pemikiran dimana ummat Islam saat ini telah mengakui bahwa dirinya telah tertinggal dari dunia Barat dari segi Sains namun sekaligus masih merasa ‘khawatir’ dengan bentuk Sains yang diperoleh oleh masyarakat Barat, terutama ketika berkaitan dengan masalah nilai dan etika.

Secara sosial, wacana ini berkembang setelah generasi ummat Islam mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu barat, khususnya dalam hal Sians dan juga Teknologi. Ada asumsi bahwa pendidikan barat tersebut ‘jelas’ kemanfaatannya dan kemaslahatannya. Namun, kesdaran positif tersebut sekaligus mengalami permasalahan ketika sudah berada di dalam pemikiran seorang Muslim yang menganut doktrin kekafahan Islam. Bila Islam itu kafah berarti semua hal tentunya memiliki dasar di dalam Islam, termasuki Sains ? Namun dalam bentuk apa pendasaran (atau keterkaitan) tersebut ?

Pada tahun ’70-an, dunia barat dikejutkan dengan ‘deklarasi’ ke-Islaman dokter Maurice Bucaile yang konon setelah meneliti berbagai aspek kesehatan berdasarkan ilmu kedokteran modern, dia menemukan kecocokan-kecocokan Ilmu Kedokteran Modern dengan Al Qur’an. Bahkan dia juga melakukan komparasi dengan Injil, dan kesimpulannya banyak ayat di Injil yang tidak sesuai dengan ilmu kedokteran Modern. Mulailah sebuah aliran pemikiran tentang keterkaitan Islam dengan Sains dalam bentuk komparasi bukti-bukti empiris-medis dengan ayat-ayat Al qur’an.

Pada akhir tahun ’70-an, Ismail Raji AL Faruqi menggagas perlunya adanya Islamisasi Sains. Beliau menerangkan dalam sebuah paparan tentang konsep Tauhid yang menyeluruh, sekalian dengan melakukan kritik terhadap pencapaian sains dalam masyarakat barat yang ‘mengancam kemanusiaan’. Kemudian beliau mendirikan IIIT (international Institute of Islamic Thought) yang menjadi wahana penggodokan pemikiran tentang Sains Islam. Mujadid sekaligs Mujadid Islam putra Palestina ini kita ketahui meninggal di Amerika Serikat secara misterius.

Secara garis besar Al Faruqi mengusulkan adanya Islamisasi Sains dengan jalan : (1) Mengkoreksi Sains yang ada dengan alat baca Al Qur’an. (2) Menerjemahkan Al Qur’an dengan Sains yang ada sekarang. (3) Menggali kandungan Al Qur’an dan membuat ‘Sains versi Qur’an’ sendiri, tanpa memandang Sains yang ada sekarang.

Ternyata di Malaysia juga ada tokoh yang cukup intens mempelajari Islamisasi Sains atau Sains Islam ini. Beliau bernama Naquib Al Attas. Bahkan banyak ahli yang menganggap dia lebih dahulu memiliki pemikiran tentang Islamisasi Sains ini.

Belakangan, ada seorang tokoh yang fenomenal dan juga berhasil memasuki budaya pop masyarakat awam yang secara tidak langsung juga membawa tema ‘Islamisasi Sains’, yaitu Harun Yahya. Tokoh yang terkahir ini berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya yang menyampaikan tema Sains Islam ini secara lebih praksis-empiris, dimana tokoh –tokoh lain banyak yang berkutat dalam dunia profesional, filosofis, atau teologis.

Sebenarnya, tema Islamisasi Sains ini merupakan bagian dari tema besar tentang perdebatan kaitan Islam dengan Modernitas. Secara bersamaan, tema-tema lain juga berdatangan ke dalam khasanah pemikiran ummat Islam. Seperti wacana tentang Politik Islam , Ekonomi Islam atau banyak hal yang memiliki langgam ‘seperti’ pelabelan Islam terhadap simbol-simbol modernitas. Selain yang menganut cara berfikir seperti diatas, di internal ummat sendiri juga masih berkutat dalam berbagai perbedaan menyikapinya, ada yang mengganggap segala bentuk yang datang dari barat itu haram, ada yang menganggap tidak semua haram, bahkan ada yang menganggap bahwa ilmu-ilmu barat (selain ilmu agama…mugkin ) tidak bisa dihukumi oleh ummat Islam. Karena memang Islam tidak memiliki keterkaitan secara filisofis terhadap ilmu-ilmu tersebut.

Dalam konteks Indonesia, sebenarnya pemikiran ini cukup bisa berkembang dijaman Orde Baru. Ada AM Syaifudin, Dr. Dawam Raharjo dengan IIIT Indonesia, dan sebagainya. Secara perkembangan wacana, sepertinya wacana Politik Islam, Negara Islam, atau Ekonomi Islam tampak lebih berkembang, bahkan sudah banyak yang telah menerapkan nya dalam kehidupan nyata. Namun, konsep Islamisasi Sains (dalam arti Natural Sains) ini masih sulit mencari para ahlinya yang secara intens mengkaji wacana ini.

Dalam perkembangan selanjutnya, ada perdebatan tentang perlu tidaknya sebuah upaya Islamisasi Sains. Ada yang berpandangan seperti diatas tentang Islamisasi Sains, namun ada yang berpandangan bahwa Islamisasi Sains adalah sesuatu yang tidak perlu, karena dia beranggapan bahwa Sains itu Netral. Bila netral biarlah berkembang tanpa harus di Islamkan, sebagaimana Sains telah dilepaskan dari “kekristenannya” sejak arus humanisme-antoprosentrisme yang merupakan konsekuensi desakralisasi Sains.

Namun, sementara fihak beranggapan bahwa Sains dalam kenyataannya “tidak bebas nilai”. Sains dikatakan telah terintervensi dengan ‘ Filosofi lain’, bahkan isme-isme yang menjadi ‘ruh’ Sains itu. Berdasarkan pandangan bahwa Sains Modern telah ‘dipaksa’ keluar dari gereja seperti dikemukakan sebelumnya, para tokoh yang melihat perlunya Islamisasi karena masalah ini otomatis tidak memandang bahwa Sains Modern ini adalah Kristen. Lantas ? Para penggagas Islamisasi Sains atau Sains Islam menganggap bahwa Sains Modern saat ini telah terintervensi oleh Materialisme, bahkan hingga materialisme ekstrim yang bernama Ateisme. Biasanya hal ini diasumsikan berdasarkan fenomena Ilmuan-imuan barat yang ‘positifistik’ ekstrim sehingga menjadi atheis seperti Freud, Nietze, Darwin, August Comte. Atau yang paling kontemporer adalah Stevent Hawkins.

Asumsi ini bisa jadi salah atau bisa jadi benar. Namun menurut Karen Amstrong di buku “Sejarah Tuhan”, dinyatakan bahwa atheisme para ilmuan barat tersebut (diluar Hawkins) adalah sejatinya mereka bukan atheis dalam arti menolak Tuhan dalam artian Essensi, namun sejatinya yang mereka tolak adalah Tuhan versi Gereja Abad Pertengahan. Bila asumsi ini benar, bisa jadi kita, ummat Islam, tidak perlu gegabah menyatakan keAteis-an mereka sebagai Kekafiran (tentunya butuh analisis sejarah, apakah ‘Tuhan’ versi Islam telah mereka kenal ?)

Kembali ke Islamisasi Sains, ada tokoh dari Iran, seorang Fisikawan Muslim (mungkin Syi’i ?) yang menyatakan dalam beberapa buku yang belakangan diterbitkan Mizan bahwa Islamisasi Sains adalah sesuatu yang sah-sah saja. Demikian pula bila ummat Kristen mau melakukan “ Kristenisasi Sains”, atau ummat beragama lain. Menurut dia, Islamisasi Sains sangat perlu karena Islam memang menganjurkan ummatnya untuk mempelajari Sains. “Hikmah adalah milik ummat Islam yang hilang, ambillah walau itu ada dalam genggaman orang kafir” (menyitir perkataan Shahabat Ali, r.a). Dalam arti lain, Islam sebagai sumber spirit untuk terus berilmu. Dia juga menisbatkan kepada fenomena peraih Nobel Abdus Salam, seorang Ilmuan Islam (…….Ahmadiyah ?) yang dengan keyakinan tentang Ketunggalan Sebab (Tauhid) ingin membuktikan ketunggalan teori –tori fisika (teori segala sesuatu..).

Sebab yang kedua adalah karena Sains memerlukan Etika, Islam adalah sumber etika dan Etika Islam bisa memberi jalan agar Sains tidak berbalik membahayakan manusia. ‘Efek Frankenstein’ demikian populernya. Sains bahkan telah menjadi sesuatu yang mengontrol manusia itu sendiri tanpa sadar. Dan sebab yang ketiga adalah sebab dimana mayoritas ummat Islam saat ini berada dalam posisi terbelakang dalam Sains yang ternyata menjadi terbelakang dalam segala hal di dunia (dalam pengajia Pak Yunahar Ilyas rabu kemarin dikatakan : Ummat Islam saat ini bukanlah Khalifatullah Fil Ard, karena tugas itu kini berada di tangan bangsa Barat”).

Mahdi Ghulzani mengusulkan (1) bahawa aspek teleologi (tujuan sebuah sesuatu) diakui di dalam analisa penciptaan alam. Asumsi Ilmuan Ateis bahwa Alam adal tanpa tujuan dari ‘Penciptanya’ harus ditingalkan. (2) Disulkan suatu sistem Ontologi (pengakuan tentang kebradaan sesuatu) dimana sains tidak perlu hanya mengandalkan ‘obyek-obyek’ Dhairiyah (materialistis/terindera) dan Logika semata. Namun secara obyek-obyek metafisik juga harus diakui keberadaannya, walaupun tidak perlu menyeledikinya dengan metode inderawi maupun logika. (3) Diusulkan adanya sistem Epitimologi sesuai Qur’an dimana sumber kebenaran adalah : Indera, Logika, Intuisi. Bahkan Wahyu harus dianggap sumber kebenaran tertinggi .

Namun Mahdi Ghulzani menolak Islamisasi Sains model Buchaile, karena dalam pandangan Mahdi, Al Qur’an bukan kitab Sains. AL Qur’an memuat fenomena alam bukan untuk sebagai kumpulan rumus, namunsebagai spirit ummat Islam untuk berIlmu, memuat konsep Teleologis, Ontologis, Epistimologis dan Aksiologis dari Sains, namun ummat manusai diberi kebebasan untuk mengejarnya dengan metode yang tidak melanggal hal-hal yang digariskan Al Qur’an tadi. Secara hati-hati Mahdi mengingatkan tentang bahaya menggunakan metode “ pencocokan ayat dengan teori sains”. “Teori Sains yang merupakan hasil pencarian manusia menggunakan akal fikirannya tetaplah sesuatu yang mansih mungkin untuk terkoreksi oleh jaman, bila kita gegabah mencocokkan Ayat dengan teori Sains bisa-bisa ayat Al Qur’an juga akan mengalami pengkoreksian” (Tentunya dalam pemahaman pribadi penulis bila yang dicocokkan sama-sama tafsir bukanlah hal yang masalah, ‘asal masih diyakini itu hanya tafsir’. Sains sebagai tafsir —-baca:pendekatan—– atas kebenaran Hakiki di Alam, tafsir ayat adalah pendekatan dari Kebenaran Hakiki di Ayat AL Qur’an )

Pernyataan Mahdi Ghulzani di atas cekup sejalan dengan pola pemikiran Dr. Mulyadi Kertanegara. Dr. Mulyadi menganggap bahwa Sains pada dasarnya adalah milik seluruh ummat Manusia, setiap peradaban selalu memberi ‘ruh’ pada Sains melalui turunan filosofis ajaran yang ‘berlaku’ disuatu masyarakat. Sehingga Sains telah pernah di Babiloniakan, kemudian di Yunanikan, di Iskandariyakan, di Suryanikan (Syiria) dan di Hindi kan, yang pada abad pertengahan berhasil di Islamkan oleh para Ilmuan Muslim, baik di Bagdad maupun Andalusia. Pada jaman abad pertengahan akhir Sains yang diekspor ke-barat kemudian terkristenkan. Setelah terkristenkan kemudian Sains disekulerkan, hingga saat ini d Barat. Dari asumsi ini, maka aadlah sesuatu yang ‘mungkin’ bila saat kemudian bila ummat Islam mau ‘memakai’ perlu di Isslamkan terlebih dahulu.

Islamisasi Sains dan Ilmuisasi Islam

Belakangan ini ada pendapat yang berbeda, keluar dari pemikiran Dr. Kuntowojoyo (Alm.). Beliau dalam buku terakhirnya mencoba menekankan bahwa Islam (doktrin) perlu untuk di Ilmukan. Artinya Islam dalam bnetuk teks-teks ajaran agama perlu untuk di jabarkan dalam bentuk teori-teori dalam berbagai macam disiplin ilmu agar bisa : praksis, operasional, menjadi sesuatu yang objektif dan membumi tidak hanya sebagai dogma semata. Hal ini menurutnya ‘dimungkinkan’ dalam jaman dimana spesialisasi ilmu telah berlangsung sedemikan spesifik, sehingga adalah memungkinkan bila Islam dibahasakan dalam berbagai disiplin ilmu yang berkembang saat ini.

Sekilas model pemikiran ini bertolak belakang dengan konsep Islamisasi Sains sebelumnya. Bahkan Dr. Kuntowijoyo sendiri yang menelurkan konsep ‘Sains Islami” versinya dalam Ilmu Sosial Profetik menolak konsep Islamisasi Sains. Karena dianggap bisa membawa hanya: pelabelan semata dan kurang memiliki kesadaran profetis. Beliau mencoba untuk mengingatkan bahwa dengan ‘hanya’ Islamisasi Sains , hasilnya tidak bisa ‘menggerakkan’ secara efektif. Namun dengan Ilmuisasi Islam maka ummat Islam akan bisa menjadi lebih genuine dengan ide orisinilnya berdasrkan Al Qur’an, namun tetap dalam bahasa universal yang telah diyakini seluruh ummat manusia dalam nurani mereka masing-masing. Mungkin mirip dengan bahas Fiqh Dakwah Pak Natsir “ Wahyu memanggil fitrah, Fitrah melaksanakan Wahyu…:”

Khatimah

Terlepas dari perdebatan tentang perlu tidaknya Islamisasi Sains atau bagi yang mengganggap perlu kemudian juga berdebat tentang pengertian dan metode Islamisasi tersebut, adalah sungguh menarik kita melihat perkembangan pemikiran tersebut. Tradisi berfikir ilmiah, realistis sekaligus idealis, namun tidak ‘jauh’jauh’ dari wahyu ini tentu saja perlu untuk menjadi contoh bagi perkembangan intelektualitas ummat selanjutnya. Gambaran tokoh-tokoh di atas yang dalam kurun dua dasawarsa telah menyumbangkan sebuah ‘pentas’ perdebatan yang tak jarang meninggalkan dokumen otektik berupa buku, makalah atau dokumentasi lainnya kemudian mungkin meninggal kan sebuah pertanyaan. Mungkinkah upaya ini masih banyak dibaca oleh generasi selanjutnya ? Apakah upaya yang menghabiskan waktu, tenaga dan fikiran itu bisa menjadi dasar untuk bangkitnya ilmuan Islam selanjutnya ?

Terlepas dari perdebatan –perebatan di atas, ada satu hal yang dibenarkan oleh semua tokoh. Pertama, semua tokoh mengakui bahwa dahulu Ummat Islam pernah menjadi ‘penguasa’ dalam Sains. Kedua, saat ini ummat Islam jauh tertinggal dari bangsa barat dalam hal Sains. Ketiga, ummat Islam perlu untuk mengejar penguasaan Sains tersebut. Keempat, Saintis Islam tetap memiliki perbedaan dengan Santis non-Islam, terlepas dari perdebatan ada tidaknya Sains Islam.

Demikian.Wallahu Alam Bissawab.

Posted in: Islam