Mencari Akar Intelektualitas IMM

Posted on Agustus 4, 2007

3


Dalam kurun waktu antara 1964 hingga 2003 ini banyak variasi pernyataan terhadap peran yang diemban oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ada yang berkomentar positif dengan menyatakan IMM masih bersih dari kepentingan politik praksis, masih memiliki prospek besar karena kekuatan tradisi Intelektual Muhammadiyah yang menjadi sandaran IMM atau juga ada yang berkomentar negatif dengan menganggap bahwa IMM masih menunjukkan kemanjaannya kepada Muhammadiyah, “bentuk kader” IMM yang tidak jelas atau komentar ketidakjelasan peran IMM dalam sebuah peta Gerakan Mahasiswa. Kadang pernyataan pernyataan di atas hanya menjadikan elit IMM terjebak pada “kemanjaan yang lebih akut” atau malah berkutat pada apologi-apologi yang kurang konstruktif. Padahal dalam realitas sejarah pergerakan Mahasiswa, para kader IMM harus mengakui bila peran IMM jarang sekali disebut sebagai bagian dari Gerakan Mahasiswa.

Terlepas dari apologi para elit IMM dengan menyatakan bahwa realita tersebut adalah hasil rekayasa “kelompok tertentu” atau perkembangan terakhir IMM periode Piet Haidir yang menimbulkan kesan banyak bereaksi terhadap tanggapan pernyataan terakhir di atas, ada persoalan yang mendasar pada IMM. Yaitu identitas IMM masih cenderung menjadi sesuatu yang mistis, belum diterjemahkan dalam sebuah rumusan ideologi (atau memang ini dihindari) atau secara maksimal diterjemahkan dalam bentuk teori-teori perkaderan sebagai proses pembangunan identitas ikatan dalam realitas objektif.

Dalam tataran konseptual sebenarnya IMM memiliki sebuah konsep yang komprehensif. Trilogi Iman-Ilmu-Amal yang kemudian juga berkaitan dengan Trilogi lahan garapan Keagamaan-Kemasyarakatan-Kemahasiswaan dan juga trikompetensi kader Spiritualitas-Intelektualitas-Humanitas memiliki konsep yang khas dibanding pola gerakan lain. Hal ini bisa dilihat dalam struktur organisasi IMM yang ingin mengakomodasi semua realitas Mahasiswa : Bidang IPTEK yang berorientasi pada Profesionalisme, Bidang Sosek yang berorientasi pada Gerakan Kongkrit Pemihakan–Dakwah-Pemberdayaan dan Bidang Khikmah yang berorientasi pada peran IMM sebagai organ intelektual kritis-etis-politis.

Tulisan ini adalah sebuah kajian pustaka dan refleksi aktifis tentang akar intelektualitas IMM sebagai usaha mengungkap identitas IMM dari sudut pandang pola gerakan Kaum Terpelajar bangsa Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan agar IMM, terutama dalam perkaderannya, bisa mengetahui posisi dirinya dalam pola gerakan Kaum Terpelajar Indonesia dan mengintegrasikan diri dalam gerakan intelektual bangsa.

II. Masyarakat Intelektual Muslim

a. Definisi Intelektual Muslim

IMM sering disebut kader intelektual Muhammadiyah. Hal ini bisa dikarenakan gerakan spesifik IMM yang berada di lingkungan Mahasiswa yang dianggap identik dengan budaya Intelektual. Dari anggapan tersebut, kemudian timbul pertanyaan tentang bagaimana identifikasi kader intelektual tersebut.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata Intekektual berkaitan dengan kata Intelek. Intelek berarti istilah psikologi tentang daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenan dengan pengetahuan ; daya akal budi; kecerdasan berfikir. Kata Intelek juga berkonotasi untuk menyebut kaum terpelajar atau kaum cendekiawan.

Sedangkan kata intelektual berarti suatu sifat cerdas, berakal, dan berfikiran jernih berdasarkan ilmupengetahuan. Kata intelektual juga berkonotasi sebagai kaum yang memiliki kecerdasan tinggi atau juga disebut kaum cendekiawan.

Dari asal katanya, kata intelek berasal dari kosa kata latin: Intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Dalam pengertian sehari-hari kemudian berarti kecerdasan, kepandaian, atau akal. Pengertian intelek ini berbeda dengan pengertian taraf kecerdasan atau intelegensi. Intelek lebih menunjukkan pada apa yang dapat dilakukan manusia dengan intelegensinya; hal yang tergantung pada latihan dan pengelaman.

Dari pengertian istilah, intelektualisme adalah sebuah doktrin filsafat yang menitikbertkan pengenalan (kognisi) melalui intelek serta secara metafisik memisahkannya dari pengetahuan indra serapan. Intelektualisme berkerabat dengan rasionalisme. Dalam filsafat Yunani Purba, penganut intelektualisme menyangkal kebenaran pengetahuan indra serta menganggap pengetahuan intelektual sebagai kebenaran yang sungguh-sungguh. Di dalam filsafat modern, intelektualisme menentang keberatsebelahan sensasionalisme yang hanya mengandalkan indra, antara lain didukung oleh rene Descartes (1596-1650), kaum Cartesian, serta sampai batas tertentu oleh spinizisme. Pada masa kini, bercampur dan tambah dengan aliran agnitisme, intelektualisme dibela positivisme logikal.[3]

Dalam pembahasan tentang identitas Intelektual IMM, maka tidak terlepas dari konteks Intelektual Islam. Bila dikaitkan dengan arti harfiah intelektualime di atas, maka bisa dikatakan bahwa kata Intelektualime mirip dengan budaya berfikir yang dibangun oleh kaum Mu’tazillah yan mewakili rasionalisme Islam.

Mu’tazillah sendiri adalah aliran rasionalisme dalam teologi Islam yang muncul sejak permulaan abad ke-2 Hijriyah atau perempat abad pertama abad ke-8 Masehi. Pemikiran rasionalismenya itu hanya terikat kepada Al Qur’an dan Hadist Mutawir, atau minimal hadist yang diriwayatkan oleh 20 sanad. Pendiri aliran ini Washil bin Atha’ dan pendukungnya antara lain Abul Huzail al Allaf, Ibrahim an Nazzam, Muammar ibnu abbad, Muhammad al-Jubbai dan al Jahiz. Dalam paham mereka, Al-Qur’an adalah mahluk dan diungkapkan dalam huruf atau suara yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu, tempat dan bahasa tertentu. Ayat-ayatnya yang menyebutkan tangan, wajah, mata Tuhan dan yang seperti itu hendaklah difahami secara metaforis. Selain itu menurut mereka Tuhan hanya berbuat baik danmesti berbuat demikian sebagai kewajiban-Nya untuk kepentingan manusia. Ia tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, bukan saja di dunia, juga diakhirat. Manusia dalam pandangan mereka mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengetahui adanya Tuhan, mengetahui baik dan buruk serta mengetahui dengan akalnya kewajiban untuk bersyukur kepada Tuhan dan mengamalkan kebaikan. Manusia memiliki kemauan bebas dan kebebasan bertindak: dan terhadap kebebasannya itu Tuhan akan mengadilinya nanti di akhirat. Kejayaan aliran ini pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi kemudian dilanjutkan dengan kemunduran pada abad-abad selanjutnya[4].

Aliran ini oleh KH Azhar Basyir disebutkan mengalami kemunduran karena pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar dimana yang disebut ma’ruf adalah yang sesuai dengan faham mu’tazillah dan yang mungkar adalah yang berseberangan. Pelaksanaan amar ma’ruf ini dinilai oelh KH Azhar Basyir terlalu keras [5]. Dalam sejarah disebutkan adanya bentuk kekerasan politik yang dilakukan oleh kholifah Al Ma’mun pada bani Abassiyah terhadap kaum yang berseberangan dengan Al Ma’mun yang Mu’tazillah. Hal ini dimulai dari inisiatif Al Ma’mun yang mengumumkan tentang pengertian Al Qur’an sebagai mahluk menjadi kebijakan resmi negara. Kebijakan tersebut kemudian dilanjutkan dengan melakukan tindakan Mihnah atau Inkusisi pada 827 dan 833 Masehi. Setiap hakim agama yang menolak tesis ini akan dipecat atau dipenjara. Kebijakan tersebut dirubah pada masa Al Mutawakkil pada 847 M dengan mengubah total kebijakan negara. Pada masa itu kebijakan malah berbalik dengan melakukan kebijakan represif kepada kaum Mu’tazillah dan juga Syi’ah[6].

Dari tinjauan sejarah kata Intelektual baik dalam konteks umum maupun dalam tarikh Islam di atas, sebenarnya saat ini ada semacam tarik ulur yang kadang menyesatkan. Bila yang disebut Intelektual kembali ke arti asal sebagai peran akal, fikiran manusia maka dalam membangun pengertian intelektual tidak akan terlalu sulit bila di bawa dalam konteks Islam apapun golongannya. Namun bila kemudian kata Intelektual dibangun dengan melihat produknya (bukan proses atau landasan normatifnya) atau dengan melihat sejarahnya (terutama kekerasan politiknya), maka kata Intelektual sepertinya berseberangan dengan arus utama tradisi Islam di Indonesia bahkan kadang dibawa ke urusan teologis (seperti cap kesesatan Islam Liberal yang melahirkan kehalalan darah Ulil Absor Abdala).

Bila didasarkan pada pengertian harfiah tentang intelek atau intelektual yang berkaitan tentang akal fikiran atau mentalitas berdasarkan kemauan berfikir Al Qur’an banyak membahas. Sebagai contoh tentang akibat orang-orang bodoh. Pada Surat Al An’aam ayat 119[7] dijelaskan tentang orang-orang yang melampaui batas kerena tidak berpengetahuan. Atau surat Al An’aam ayat 144[8] tentang relasi ketiadaan pengetahuan dengan kezaliman. Hal ini sejalan dengan pengakuan keberadaan akal seperti pada Az Zumar ayat 9[9] dan kedudukan bagi orang yang berilmu seperti pada

Dari istilah intelektual muslim (Islam) Dawam Raharjo mengartikan bahwa ke-intelektualan adalah ekspresi dari ke-Islaman. Atau yang lebih jelas lagi, ke-Intelektualan adalah konsekuensi dari ke-Islaman. Artinya, bahwa sikap, budaya, kompetensi (dan status) intelektual seorang muslim adalah ekspresi dan konsekuensi dari deklarasi ke-Islaman muslim tersebut. Sehingga tampak secara tegas perbedaan antara orang Islam yang intelektual dan non-Islam yang intelektual. Ke-intelektualan seorang muslim adalah dikarenakan ke-Islamannya, sedangkan ke-intelektualan non muslim tidak berdasarkan ke-Islaman. Pengertian di atas hanya berdasarkan sebab terjadinya suatu ke-intelektualan, sedangkan hasil kongkrit (materiil) dari suatu ke-intelektualan non-muslim bisa saja lebih canggih atau lebih primitif. Jadi pengertian di atas tidak bisa dijadikan untuk berdebat tentang kualitas materiil sebuah hasil karya intelektual.

Dari konsep intelektual Islam, terlebih dahulu perlu dikaji konsep Ulil Albab. Istilah Ulil Albab di dalam Al Qur’an terdapat pada beberapa ayat. Salah satu ayat tertera pada Ayat ke 190-191 Surat Al Ali Imron.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)

“Sesungguhnya, dalam (proses) penciptaan langit dan bumi, dan (proses) pergantian malam dan siang, adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi ulil albab (orang-orang yang berfikir [menggunakan intelek mereka]). Yaitu orang-orang yang berzikir (berlatih diri dalam mencapai tingkat kesadaran akan kekuasaan Allah) dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan terlentang, dan senantiasa berfikir tentang (proses) penciptaan langit dan bumi, (sehingga mereka menyatakan) wahai Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan semua ini dalam keadaan sia-sia. Maha suci Engkau, peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS 3: 190-191)[10]


Dalam ayat Ali Imron 190-191, dinyatakan adanya aspek hasil pengamatan realitas (tanda-tanda alam), dan aspek hasil interpretasi intrinsik (proses) sebagai hasil proses fikir dan zikir. Di dalam konsep ini, kata ulil albab yang dipakai oleh AM Saefuddin sebagai padanan arti Intelektual berarti ada kesinambungan antara kemampuan berfikir, merenung dan membangun teori ilmiah dari realitas alam yang empiris dengan metode induktif dan deduktifnya namun sekaligus mampu mempertajam analisisnya dengan mengasah hati dan rasa melalui berzikir. Dalam uraian ini AM Saefuddin berusaha berbicara kepada khalayak awam yang kadang (dengan justifikasi ke-awaman-nya) orang menganggap kerja intelektual adalah hanya kerja berfikir, sehingga ada konsep “netralitas ilmu” yang menganggap konsep kebenaran adalah monopoli logika.[11] Oleh beberapa penggagas Ilmu Islami seperti AM Saefuddin, Jujun S. Suriasumantri, atau yang terbaru Dr. Mulyadi Kertanegara menolak teori kebenaran tersebut dengan menyatakan bahwa harus ada fakultas intuisi selain logika yang berfungsi sebagai pengawal etik logika. Disinilah mungkin peran agama yang kemudian terkenal dalam ungkapan Albert Einstein bahwa “Ilmu Tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” [12] .

Dalam perkembangan kaitan antara fikir dan zikir ini Taufik Pasiak[13] menyatakan bahwa kadang kita salah mengartikan fikir sebagai kerja otak dan zikir sebagai kerja hati. Karena sesungguhnya setelah adanya perkembangan dalam ilmu kedokteran dalam bidang neurologi kedua kerja tersebut merupakan kerja otak dimana didalam organ otak ada organ yang berfungsi untuk melakukan tugas berlogika (untuk kerja fikir) dan ada organ yang berfungsi untuk intuisi (kerja zikir). Bahkan Taufiq Pasiak menyatakan bahwa sesungguhnya terjemahan kata qolb (qolbu) adalah menunjuk organ otak juga. Perasaan di dada itu adalah karena aliran darah yang mengalir tidak teratur di jantung, sehingga kadang orang menyebut bahwa qolb (terjemahan kata hati dari kata inggris heart bukan liver) itu berada di dada. Jadi otak bukanlah hanya fikiran karena otak tempat proses berfikir dan pengendali perasaan. Untuk pembahasan selanjutnya kata Ulil Albab dianggap sama dengan kata Intelektual (Islam).

Dalam pembahasan tentang Ulil Albab, KH A. Azhar Basyir menyatakan bahwa ulul albab adalah orang yang mengembangkan ilmu berwawasan Islam dengan seluruh potensi yang ada pada dirinya (keistimewaan akal, argumen pemikiran)[14]. Hal ini bisa terkait dengan penjelasan Dawam Raharjo[15] yang menegaskan bahwa ciri Ulil Albab ada tiga dimensi. Dimensi pertama dimensi ontologis, dimana seorang ulil albab adalah manusia yang telah menarik jarak dari dan semua yang ada, termasuk dirinya sendiri, masyarakat dan sejarah, serta menjadikannya menjadi objek pengamatan yang rasional. Kedua, dimensi fungsional, yang bertolak dari pengertian bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan merupakan suatu yang haq dan bukannya batil atau kacau, melainkan berfungsi dalam kehidupan manusia. Dan ketiga, dimensi aksiologis atau etis, yang melihat sesuatu dari segi buruk atau baik, benar atau salah, agar kehidupan manusia dapat berkembang lebih maju sejalan dengan harkat manusia sebagai mahluk yang dimuliakan Allah.

Namun kemudian Dawam Raharjo membuat perbedaan definisi antara golongan Intelektual dan golongan Intelegensia untuk pengertian secara umum (bukan hanya untuk muslim). Oleh Dawam Raharjo, keduanya disebut sebagai Golongan terpelajar yang oleh dunia sosiologi disebut sebagai golongan kelas baru.

Golongan intelektual didefinisikan sebagai:

“golongan terpelajar yang sekolahan atau bukan (termasuk drops-outs), yang peranannya tidak mesti berkaitan dengan ilmu yang dipelajari atau profesi yang dikuasai. Dan yang lebih penting mereka berperan sebagai kritikus sosial, bersifat emansipatoris dan liberatif, berpola pikir yang hermeneutis dan kerap kali bersikap politis. Mereka adalah golongan yang merasa dirinya bebas.”

Golongan Intelegensia[16] didefinisikan sebagai :

“golongan terpelajar yang kepentingan utamanya adalah penggunaan disiplin ilmunya secara profesional, dan karena itu peran yang mereka jalankan berkaitan erat dengan ilmu yang mereka pelajari di sekolah atau profesi yang mereka kuasai. Mereka adalah orang yang setia kepada ilmu yang mereka pelajari, walaupun kerapkali dapat bergeser atau melebar. Mereka ini umumnya tidak berkeberatan disebut sebagai kurang atau tidak bebas.

Dalam pengertian lain, golongan intelektual disebut sebagai golongan yang tidak hanya berkutat pada ilmu profesionalnya, namun memiliki peran sosial terutama sebagai intelektual bebas yang bisa memerankan diri sebagai kritikus masyarakat atau pemerintah[17]. Biasanya dinisbatkan dengan peran Ir. Sukarno yang Insinyur Teknik Sipil dan kemudian menjadi tokoh pergerakan nasional, Cokroaminoto yang insinyur teknik mesin yang menjadi ketua Sarekat Islam, atau dr. Sutomo, dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Wahiddin Sudirohusodo yang dokter namun juga menjadi tokoh pergerakan nasional[18]. Mungkin ini sejalan dengan pengertian Intelektual Organik versi Antonio Gramsci yang membedakan peran Intelektual biasa dan intelektual organik menurut perannya, yaitu yang menyuarakan kepentingan kelompok dan peduli pada urusan masyarakat.[19]

Dalam hal mentalitas kader Intelektual, Ahmad Fuad Fanani menyatakan bahwa intelektualitas bukanlah logika yang bersifat pasti, searah dan hanya ditafsirkan secara tunggal. Intelektualitas adalah kondisi seorang kader yang mampu menjalankan suatu bidang yang dikuasainya secara tekun dan serius, untuk selanjutnya bersedia juga mentransformasikan pengetahuannya pada kader lain. Kemudian seorang kader hendaknya juga memahami bidang-bidang lain dengan cara bersedia berdiskusi dengan kader lain. Intelektualitas harus dipadukan dengan sikap seorang kader. Intelektualitas bukanlah sesuatu yang digunakan untuk meremehkan dan memperkecil kader lain. Seorang intelektual dalah seorang kader yang bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan norak serta kritis dan pasrah.[20]

Menurut Edward Said dan Ali Syari’ati, untuk mengukur apakah seseorang itu masuk kategori intelektual atau bukan dengan mudah dapat dilihat pada peran dan kesadarannya untuk menyampaikan sebuah kebenaran. [21] Tujuan Intelektualitas menurut Edward Said adalah meningkatkan kebebasandan pengetahuan manusia. Ia hendaknya tidak menerima sebuah kebenaran sebagai sebuah kepastian yang tidak perlu dikritisi dan ditafsir ulang.

Kembali dalam konteks Intelektual muslim, ada pendapat yang kurang lebih sama dalam menyoroti peran Intelektual Muslim oleh Muslim Abdurrohman dengan Istilah Ulama Organik[22]. Sorotan sejenis juga dilontarkan oleh Kuntowijoyo[23]. Kuntowijoyo menyatakan bahwa Intelektual Islam (Cendekiawan) harus menjalani misi profetik (kenabian) seorang Muhammad SAW yang walaupun telah mi’raj beliau masih mau untuk turun ke bumi, memikirkan ummatnya. Dalam pengertian lain sebuah pencapaian derajat kemanusiaan dalam bentuk karunia menghadap “wajah” Allah, seorang Muhammad SAW masih memikirkan kebobrokan ummatnya dan turun ke bumi melakukan revolusi dalam realita keanusiaan. Sehingga seorang intelektual setelah mencapai derajat ulil albab yang seakan “tahu banyak hal” bertanggungjawab merealisasikan konsep-konsep yang dia tahu dalam realita kemanusiaan. Disinilah kemudian timbul persoalan tentang bentuk pemihakan seperti apa yang harus dilakukan seorang Cendekiwan atau Intelektual (bukan Intelegensia) atau lebih khusus (dan lebih pasti) oleh seorang Ulil Albab ?

Kuntowijoyo[24] menyatakan bersama penegakkan tauhid harus ada pemihakan terhadap dua golongan, yaitu mustadh’afien dan dhu’afa/masakin. Dalam konsepsi tersebut mustadh’afien adalah orang lemah (An Nisa’ ayat 75)[25] atau orang yang tertindas (teraniaya) dari sisi sosial-politik (struktural). Sedangkan konsep dhu’afa/masakin adalah konsep orang lemah yang tertindas dari sisi ekonomi. Pada uraiannya Kuntowijoyo membedakan konsep pemihakan “Islami” ini dengan konsep pemihakan Marxis. Dimana seseorang yang tertindas dalam konsep Islam bukanlah harus orang yang miskin, namun orang kaya bisa menjadi orang yang teraniaya bila hartanya dirampok, misalnya. Disinilah Islam tidak mengajarkan model Robin Hood untuk melakukan pemerataan.

b. Keadaan Obyektif Intelektual Muslim

Status keintelektualan bukanlah berdasarkan klaim pribadi atau status kesarjanaan seseorang. Dalam sejarah Indonesia, ada berbagai variasi golongan Intelektual memperoleh status sebagai intelektual muslim oleh masyarakat . Oleh Dawam Raharjo disebutkan bahwa ada empat dimensi kemusliman seorang cendekiawan (intelektual) muslim. Dimensi tersebut adalah : dimensi keimanan atau aqidah, dimensi ibadah khusus, dimensi amal sholih dan dimensi “bergabung” dalam pergerakan Islam.

Dimensi keimanan seringkali diidentifikasikan dalam status kemuslimannya. Dimensi ini dalam realita sosial biasanya sangat relatif dan personal. Biasanya dinyatakan dengan keberanian seorang intelektual menyatakan kepada khalayak bahwa dirinya Muslim. Disini kita tidak melihat apakah dia ta’at dalam beribadah, aktif beramal sholih atau ikut dalam sebuah gerakan Islam.

Dimensi ibadah khusus (shalat, puasa, zakat, haji) merupakan dimensi yang menganggap bahwa sudah semestinya seorang intelektual yang menlaksanakannya dianggap sebagai bagian dari intelektual muslim. Demikian pula dengan dimensi amal sholih, masyarakat menganggap seorang intelektual yang beramal shalih, membangun masjid, menyantuni fakir miskin dan sebagainya juga termasuk intelektual muslim.

Dimensi terakhir adalah dimensi “bergabung” dalam pergerakan Islam. Dimensi ini seakan menjadi sebuah legitimasi yang paling ampuh untuk melegitimasi seorang Intelektual masuk dalam kalangan Intelektual Muslim. Hal ini karena kekuatan organisasi Islam (baik sosial maupun politk) yang seakan bisa merubah baju seseorang dengan sangat efektif dari seorang intelektual muslim non-afiliasi menjadi intelektual Muhammadiyah, NU, Persis, PKS, PPP, dan sebagainya. Sebuah fenomena menarik ketika Amin Ra’is menjadi Ketua Umum Muhammadiyah yang menarik sejumlah intelektual kampus masuk dalam jajaran Pimpinan, Majelis dan Lembaga. Meraka sering disebut golongan “mu’alaf” dalam Muhammadiyah.

Sangat disayangkan memang bila kondisi di atas menjadi arus utama intelektual Islam. Idealisme bahwa ke-Intelektualan adalah ekspresi dan konsekuensi dari ke-Islaman memiliki peluang “bias” lebih besar. Disinilah kemudian muncul tanggapan miring dari beberapa golongan ummat, yang tidak sepenuhnya benar, dimana mereka seringkali menolak hasil pemikiran seorang Intelektual Muslim hanya karena status kemusliman-pemikirannya yang dianggap “tidak jelas”[26].

Tentunya kita tidak bisa menjustifikasi seorang “mu’alaf” intelektual muslim tidak berhak menyatakan pikirannya mewakili komunitas intelektual muslim. Karena dalam sejarah Islampun kita mengenal seorang Ummar bin Kahttab yang seorang Mu’alaf, namun sering menjadi rujukan pendapat dalam komunitas muslim Madinah. Atau sejarah Khalid bin Wallid yang sebelumnya menjadi musuh utama Islam, langsung memegang tampuk pimpinan perang ummat Islam setelah menjadi muslim. Sehingga yang perlu terus dikembangkan adalah budaya tabayun antar sesama intelektual muslim (terlepas dari dimensi mana dia berasal) selain mengusahakan sebuah sistem pendidikan Islam dan perkaderan Intelektual Muslim yang ideal yang memungkinkan lahirnya intelektual-intelektual muslim sebagai konsekuensi dari kemuslimannya.

Sebenarnya dalam realita Intelektual Muslim dari berbagai dimensi tersebut memiliki kadar keagamaan dari berbagai macam latar belakang selain pendidikan formal agama seperti pesantren. Oleh Dawam raharjo disebutkan empat sumber pengembangan kadar kemusliman mereka. Yaitu :

1. dasar pendidikan agama dari keluarga

2. belajar agama secara otodidak dari buku-buku

3. pendidikan non-formal dari pengajian-pengajian

4. proses sosialisi pada Pergerakan Islam

Bila dilihat dari realita di atas, maka kemungkinan perkembangan Intelektual Islam akan semakin pesat dan meluas. Disinilah yang kemudian membutuhkan sebuah upaya pembangunan paradigma bersama agar kemudian bisa membangun komunitas Intelektual Muslim yang efektif bagi perkembangan kualitas dunia Intelektual Islam.

Dilihat dari sisi peranannya dalam masyarakat, golongan intelektual ini kadang identik dengan golongan pemimpin ummat. Hal ini karena definisi pemimpin dahulu hanya sebagai pemimpin politik. Sehingga seseorang akan mudah menjadi pemimpin bila lebih menguasai akses informasi dibanding rakyat kebanyakan, terutama informasi dan pemikiran dalam bidang politik. Dan hal tersebut hanya dikuasai golongan intelektual. Namun dalam perkembangan jaman definisi pemimpin tersebut lambat laun mengalami pergeseran.

Hal ini terjadi sejalan dengan perubahan struktur sosial masyarakat dimana dalam masa feodal dahulu yang berkuasa adalah para penguasa tanah, kemudian pada masa kapitalis yang berkuasa adalah para pemilik modal sedangkan pada masa teknokrasi yang berperan adalah yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun karena luasnya cakupan ilmu pengetahuan dan teknologi karena perlunya spesialisasi dan profesionalisasi , maka pemimpin mengalami perkembangan makna.[27]

Dalam konteks kepemimpinan ini, Kuntowijoya melihat ada sebuah kecenderungan baru dalam kepemimpinan. Kecenderungan yang pertama adalah adanya diversifikasi kepemimpinan. Kalau dahulu kita memerlukan kepemimpinan politik dan agama dalam arti sempit, maka sekarang kita perlu memperluas horison pemikiran kita di bidang ilmu, teknik, ekonomi, budaya dan lain-lain.

Kecenderungan yang kedua, disentralisasi. Perluasan geografis. Kalau dahulu hanya dikenal pemimpin nasional, sekarang secara geografis harus menyebar kemana-mana. Ini bisa terjadi karena kemajuan pendidikan yang merata pula. Jadi tidak tersentralisasi di Jakarta atau dijawa saja.

Kecenderungan yang ketiga adala adanya proliferasi. Contohnya dahulu pemimpin ini menumpuk pada politik. Sekarang menyebar kemana-mana.

Lebih lanujut Kuntowijoyo menyatakan di masa depan dalam era industri kita membutuhkan pemimpin spesialis-profesional dan memiliki dedikasi tinggi serta ide (bukan ideologi). Tidak seperti dahulu yang mendahulukan ideologinya, sekarang harus dibalik. Ide dikedepankan. Ideologinya terserah pada proses berikutnya. Kita lemparkan ide-ide kepasaran, dan biarkan ide diambil oleh orang Islam atau siapapun. Kita sekarang berada di dalam dunia terbuka, maka pemimpin Islam yang dibutuhkan adalah pemimpin Islam yang juga diterima oelh ummat lain. Lebih lanjut disebutkan bahwa saat ini tidak perlu kepemimpinan tunggal. Yang diperlukan adalah banyak pemimpin untuk menangani banyak masalah.

Dalam pandangan terakhir ini Kuntowijoyo memiliki dasar berupa pengamatan dia yang menganggap bahwa sejarah ummat Islam di Indonesia telah melewati fase mistis dan fase ideologis yang sekarang memerlukan fase ide atau ilmu. Dimana Islam normatif yang berupa teks harus diturunkan dalam bentuk teologis kemudian filosofis teori dan ilmu untuk diwujudkan menjadi realita. Dengan demikian Islam bisa diterjemahkan melalui berbagai disipil ilmu yang memiliki konsentrasi berbeda. Bahkan kemudian bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin dalam bidang yang berbeda-beda.

Dari pandangan tersebut, maka realita kehidupan ideal intelektual muslim menjadi lebih jelas. Dia befikir dalam zikir, tetap menekuni dunia profesinya namun tidak melepaskan diri dari permasalahan etis-sosial. Dia memiliki keimanan yang terintegrasi dengan ilmunya, dan dengan bidang profesinya dia bisa mengusahakan sebuah pemihakan terhadap keadilan.

Oleh Dawam Raharjo dirumuskan sebuah alternatif tugas golongan intelektual bagi bangsa ini:

1. memperluas pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa

2. menumbuhkan idealisme di kalangan calon intelegensia, untuk mengabdi kepada sektor masyarakat untuk memperkuat civil society dan mengimbangi birokrasi

3. memperluas bentuk-bentuk pengabdian profesionalisme.

III. Komunitas Intelektual Muda Bernama “ Gerakan Mahasiswa”

Mahasiswa dalam negeri yang bernama Indonesia sesungguhnya menempati posisi yang elit. Dimana sejak bangsa ini mengenal sekolahan formal, status mahasiswa hanya bisa dirasakan oleh segolongan anak bangsa yang mampu membiayai diri untuk studi di Perguruan Tinggi. Sehingga tidak salah kiranya bila mahasiswa menempati posisi istimewa dalam sejarah Republik ini.

Para ahli sering menyebutkan bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah bagian dari komunitas intelektual bangsa ini. Dalam konteks status keilmuan, banyak pakar yang tidak sepakat menyatakan bahwa mahasiswa adalah calon ilmuan, karena status ilmuan tidak terputus oleh status kesarjanaan. Para pakar tersebut menyebutkan mahasiswa sebagai ilmuan muda. Inilah mungkin legitimasi kedua status elit mahasiswa dalam republik ini.

Dalam komuitas manusia muda terpelajar yang berstatus mahasiswa tersebut seringkali ada kelompok kecil yang secara unik memainkan perannya berbeda dari mahasiswa kebanyakan. Mereka yang berasal dari berbagai disipiln ilmu seringkali tergabung dalam kelompok-kelompok diskusi tentang masalah sosial dan politik negeri ini, kadang tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang sukarela melakukan pemberdayaan masyarakat, atau seringkali secara radikal melakukan demonstrasi menentang sesuatu. Kadang menentang kebijakan pemerintah hingga konon karena merekalah presiden-persiden di negeri ini harus turun tahta. Kadang memprotes kebijakan rektorat yang pada kasus ini jarang yang menghasilkan “kemenangan” (khususnya di Perguruan Tinggi Negeri). Bahkan seringkali mereka menentang ‘sesuatu’ yang mungkin mereka sendiri belum pernah ketemu, yaitu menentang lembaga Internasional, aksi keprihatinan akan adanya korban perang dan sebagainya. Lazimnya kelompok kecil, yang kadang bisa jadi besar itu, disebut sebagai Gerakan Mahasiswa.

Jack Newfield pada tahun 1960-an mengamati fenomena gerakan mahasiswa di Amerika Serikat yang bergolak merespon keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Dia menyebut kelompok ini sebagai a propetic minority. Sebuah kelompok minoritas dari suatu bangsa, bahkan para aktifis yang disebut sebagai radikal baru tersebut adalah populasi yang minoritas dikalangan mahasiswa sendiri..

Selanjutnya dalam konteks Indonesia Dawam Raharjo menerangkan bahwa misi profetik tersebut adalah karena mereka melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang tidak atau belum difikirkan masyarakat umum. Dalam visi mereka tampak ada kesalahan mendasar pada masyarakat. Dan mereka menginginkan perubahan mendasar. Mereka memikirkan suatu proses transformasi. Sehingga peran mereka bagaikan para nabi dan bukan pendeta atau kyai yang sudah sibuk dengan rutinitas. Mereka adalah “nabi” kolektif yang pada mulanya sendirian saja memikirkan kebobrokan masyarakat, sistem politik atau ekonomi. Tetapi karena bersuara sendirian itulah, maka gaungnya begitu keras.

Dari pengertian diatas, maka ternyata sebuah perbedaan yang ada pada dunia kaum terpelajar terjadi juga dalam wilayah yang lebih sempit, yaitu wilayah mahasiswa. Dimana di dalam wilayah mahasiswa tetap ada golongan yang cukup menjadi intelegensia dan ada yang memilih dirinya menjadi bagian dari golonga intelektual. Dimana kita tahu, golongan intelegensia adalah golongan yang mencukupkan diri untuk menjadi ilmuan, teknisi atau dalam istilah Wijoyo Nitisastro sebagai “sarjana tukang” dan sebagian yang lain mencoba menjadi manusia-manusia alternatif yang tidak biasa, walaupun kadang beresiko berhadapan dengan mainstream dan sebagaimana seorang nabi, baru diakui ‘benar’ dan orang-orang berbondong-bondong mengamininya ketika sebuah revolusi besar telah berhasil. Kita tahu dalam sejarah Indonesia, arus gerakan mahasiswa baru diakui menjadi gerakan massa setelah keberhasilan mereka membelalakkan mata bangsa tentang sebuah kebusukan dan menyuport keberanian untuk berkata “lawan” setelah perjuangan panjang yang kadang dianggap konyol, sok tahu, sok suci dan sebagainya .

Dalam konteks Gerakan Mahasiswa Islam, sebenarnya ada sedikit spesifikasi wilayah profetik yang berbeda dari Gerakan Mahasiswa pada umumnya selain juga menanggapi isu yang sama dengan gerakan mahasiswa pada umumnya Sebagaimana kalangan Intelektual Islam yang lebih luas, obyek kajian gerakan mahasiswa Islam biasanya adalah :

  • pembaharuan pemikiran Islam,
  • pendidikan Islam yang sedang mencari identitas,
  • hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan,
  • persoalan-persoalan modernisasi dan transformasi masyarakat pada umumnya.

Kadangkala, organisasi mahasiswa yang menjadi bagian dari gerakan mahasiswa Islam ini memiliki sebuah peran sebagai agen dakwah Islam dalam kalangan mahasiswa. Atau membahasakan Islam kepada kalangan Intelektual muda kampus karena memang ada sebuah kesulitan yang cukup mendasar bila dilakukan oleh mubaligh-mubaligh non-kampus. Pada konteks inilah kemudian seorang mahasiswa yang menjadi bagian dari gerakan mahasiswa Islam seakan harus memiliki tiga kompetensi sekaligus :

1. kompetensi sesuai bidang ilmunya sebagai konsekuensi seorang mahasiswa sekaligus investasi masadepan ummat Islam dalam era teknokrasi.
2. kompetensi ke-Islaman (dari normatif hingga pemikiran) sebagai referensi pokok gerakan sekaligus alat dakwah, khususnya dakwah dalam masing-masing kompetensi baik ketika berada di alam kampus maupun pasca-kampus.
3. kompetensi etis-sosial (politik) sebagai alat baca (dan beraksi) terhadap realita sosial yang menjadi obyek pemihakan.

Pada sisi inilah peran “lebih” gerakan mahasiswa Islam dibanding gerakan mahasiswa lain. Pertama karena cakupannya lebih “rumit”, dan peran kedua adalah lebih njlimet karena harus bisa membahasakan dalam bahasa universal untuk mengintegrasikan diri dalam sebuah gerakan mahsiswa yang lebih universal.

Namun, yang juga menjadi kenyataan bagi mahasiswa-mahasiswa yang menjadi bagian dari a propetic minority tersebut, bahwa mereka tetaplah menempati sebuah status sementara. Dalam kenyataan seorang mahasiswa hanya memiliki “jatah” 4-5 tahun studi yang otomatis harus menyiapkan transformasi diri kepada tahap selanjutnya setelah mahasiswa. Disinilah yang kemudian dibutuhkan wawasan dunia Intelektual pasca kampus yang dalam konteks seorang muslim, peran selanjutnya seorang ulil albab harus dipersiapkan. Apalagi dengan pandangan perlunya perkaderan intelektual muslim dari rahim ummat Islam sendiri, maka transformasi para mahasiswa ini juga menjadi tanggungjawab organ gerakan Islam sebagai penampung hasil kaderisasi dalam organisasi mahasiswa Islam. Apalagi bagi organisasi seperti HMI, atau KAMMI yang menyatakan diri mereka independen dari organisasi Islam lainnya. Fenomena ini juga yang kadang menjadi bumerang bagi organisasi seperti Muhammadiyah, dimana kadang terjadi gesekan antara kader buatan sendiri, seperti alumni IMM, dan kader hasil transformasi dari HMI dan KAMMI yang juga diharapkan masuk menjadi bagian dari Muhammadiyah. Tentunya butuh sebuah kearifan dan pengalaman pengelolaan konflik yang bijak dalam mengatasinya. Apalagi fenomena organisasi seperti Muhammadiyah yang mengedepankan keterbukaan dan sistem kerucut tebalik. Jumlah kader menggelembung justru ditingkatan atas.

Secara umum Dawam Raharjo memberikan pola alternatif transformasi aktifis gerakan mahsiswa pasca kelulusannya sebagai mahasiswa untuk:

1. Memasuki birokrasi pemerintahan, dengan tetap memainkan peran profetiknya untuk mengubah birokrasi agar lebih human dan berorientasi pada rakyat kecil.

2. terjun ke tekno struktur pada suatu koorperasi yang besar dan menjanjikan posisi manager dan profesional dengan tetap memainkan peran profetiknya. Untuk melakukan revolusi manajerial, pengambilan tampuk pimpinan dari pemilik modal, dan mengembangkan koorperasi yang memiliki tanggungjawab sosial

3. terjun pada masyarakat, menjadi pemimpin masyarakat, wirausahawan yang inovatif, pengembangan kepemimpinan yang produktif serta menciptakan lapangan kerja baru.

III. Membangun Intelektualitas kader IMM

Bila melihat IMM, baik dari segi normatif (Anggaran Dasar), sistem perkaderan (SPI) hingga struktur organisasi, IMM bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi yang memiliki semua yang diidealkan sebuah organisasi Mahasiswa Islam. IMM menyatakan dirinya sebagai Gerakan Mahasiswa Islam (AD Pasal1), IMM menyatakan dirinya bergerak pada bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, Kemasyarakatan. IMM memberi bekal kepada kadernya tentang Risalah Islam, Dakwah Islam, Filsafat Ilmu, Sosiologi, Politik, Wirausaha, dan Manajemen Organisasi (SP IMM). IMM melalui struktur organisasinya memberi ruang gerak kepada anggotanya untuk mendalami Islam sekaligus menjalankan organisasi, menguasai spesialisasi kompetensi profesionalnya (Bid. IPTEK), mempunyai keberfihakan dan pemberdayaan masyarakat-Dakwah (Bid. Sosek) serta memiliki kekuatan pemikiran-wacana dan analisis sosial-politik (bid. Hikmah).

Bila ditilik lebih lanjut, hal diatas itulah yang menjadi konsep khas IMM dibandingkan organisasi Mahasiswa lain di Indonesia. IMM mendambakan sebuah organisasi komprehensif yang bisa maksimal mengamalkan amanah kemahasiswaannya.

Namun ternyata, impian diatas juga yang menjadi sebuah kendala bagi IMM. Kader IMM kadang malah silau dengan kehebatan konsep organisasi lain, padahal tentunya IMM memiliki standar keberhasilan sendiri. Kader IMM menjadi terpaku untuk mencari pengakuan dari organisasi lain, padahal bila para kader itu tahu konsep IMM, tentunya seorang kader segera berusaha mengimplementasikan konsep tersebut dalam tataran praksis.

Dalam rangka membangun idealisme intelektualisme kader, hal yang utama menjadi perhatian kader adalah pengertian IMM sebagai organisasi kader intelektual yang berarti dalam segala kegiatannya merupakan sebuah proses perkaderan intelektual. Kemudian dilanjutkan dengan menterjemahkan idealisme ikatan dalam bahasa populer agar kader memahami bahwa untuk menilai IMM tidak memerlukan cara baca versi IRM atau PII atau cara baca versi HMI, PMII atau KAMMI. IMM memiliki cara baca sendiri berdasarkan spesifikasi ikatan yang memang berbeda secara mendasar dibanding organisasi-organisasi lain. Pekerjaan menterjemahkan idealisme ikatan ini bisa dinisbatkan pada pandangan Kuntowijoyo tentang era mistis, ideologis dan ilmu. Saat ini IMM membutuhkan sebuah turunan idealisme IMM bukan dalam bentuk normatif saja, namun harus diturunkan dalam bentuk filosofis, yang akan menjadi teori-teori gerakan dan menghasilkan ide-ide gerakan. Pada proses ini IMM harus berani membuka diri terhadap metode-metode yang berkembang untuk menerjemahkan idealisme IMM. Dan pada kondisi inipula kearifan organisasi dibutuhkan untuk mengelola berbagai perbedaan cara baca dari berbagai kalangan.

Langkah selanjutnya adalah berusaha mengimplementasikan dalam realitas kehidupan ikatan. Dalam realita, bila semua bidang dalam IMM bisa secara maksimal berjalan, hal ini bisa diartikan bahwa proses pertama tadi bisa berjalan dengan maksimal. Bila setiap bidang bisa diterjemahkan dalam bentuk gerakan-gerakan taktis, berarti setiap kader telah menyadari tafsir dari kerja perbidang semaksimal mungkin. Jadi sebelum beranjak kepada inovasi gerakan seperti membentuk sekolah pelopor[28] atau lembaga-lembaga tambahan, terlebih dahulu IMM harus memaksimalkan idealismenya dalam maksimalisasi tafsir dan kerja perbidang. Dalam pengertian ini, memposisikan tafsir identitas dan operasional ikatan dengan patokan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan GBHO sebagai bentuk penghormatan terhadap konsensus. Inilah perbedaan antara kreatifitas atau kearifan lokal dengan penghormatan terhadap hasil musyawarah (konsensus). Bila hal-hal pokok hasil konsensus sebuah lembaga musyawarah yang lebih tinggi dilanggar, berarti ini melanggar prinsip musyawarah.

Upaya perkaderan IMM kemudian harus melihat kader dalam dua prespektif. Yaitu kader sebagai intelektual yang sekaligus menjadi mahasiswa, dan yang kedua memandang kader sebagai seorang intelektual yang nantinya akan bergabung dalam komunitas intelektual yang labih luas pasca kehidupan di kampus. Secara jelas kita bisa membagi dua prespektif tersebut dalam uraian sebagai berikut.

a. intelektualitas kader ketika aktif menjadi Mahasiswa
1. membentuk kader yang memiliki daya kritis terhadap kondisi masyarakat yang memiliki pemihakan yang jelas sebagaimana fungsi intelektual (bebas) khususnya gerakan mahasiswa
2. membentuk kader yang memiliki spesialisasi suatu kompetensi keilmuan tanpa harus membuat dirinya terkotak dalam sebuah kompetensi yang menimbulkan arogansi atau pribadi masa bodoh dengan realitas keilmuan maupun masyarakat.
3. membentuk kader yang memiliki komitmen dan kompetensi sebagai organ dakwah di kalangan Mahasiswa dalam rangka menyampaikan risalah Islam kepada golongan terpelajar
4. membentuk kader yang menjadi tulang punggung organisasi baik dalam hal manajemen, kepemimpinan maupun keberlanjutan proses perkaderan ikatan.

b. intelektualitas untuk pasca kampus

1. menghasilkan kader yang siap memasuki birokrasi pemerintahan, dengan tetap memainkan peran profetiknya untuk mengubah birokrasi agar lebih human dan berorientasi pada rakyat kecil.

2. menghasilkan kader yang siap terjun ke tekno struktur pada suatu koorperasi yang besar dan menjanjikan posisi manager dan profesional dengan tetap memainkan peran profetiknya. Untuk melakukan revolusi manajerial, pengambilan tampuk pimpinan dari pemilik modal, dan mengembangkan koorperasi yang memiliki tanggungjawab sosial

3. menghasilkan kader yang siap terjun pada masyarakat, menjadi pemimpin masyarakat, wirausahawan yang inovatif, pengembangan kepemimpinan yang produktif serta menciptakan lapangan kerja baru.

4. mengahasilkan kader yang siap menjadi kader persyarikatan dengan tingkat kearifan yang tinggi dalam menghadapi dinamika dan pluralitas Muhammadiyah khususnya menghadapi perbedaan latar belakang kemuhammadiyahan kader (asal Ortom) maupun perbedaan latar belakang ke-Islaman kader (berasal dari luar Ortom Muhamamdiyah). Idealnya kader (alumni) IMM bisa menjadi fasilitator dan pemandu kader-kader intelektual Muhamamdiyah yang bisa berasal dari organisasi kemahasiswaan lain.

Hal tersebut merupakan sebuah konsep ideal dari perkaderan IMM dengan melihat gambaran dunia intelektual muslim maupun dunia gerakan mahasiswa. Namun ternyata masih ada beberapa kendala yang banyak terjadi pada kader.Secara garis besar, kendala tersebut adalah :

1. IMM kurang bisa mengelola secara efektif permasalahan pluralitas intelektualitas kader yang berasal dari IRM, organisasi Islam non-Muhammadiyah (seperti PII, SKI atau IPNU/IPPNU) sebagai realitas transformasi kader pelajar Muslim maupun kader non-ideologis untuk dikelola menjadi kekuatan realistis bagi IMM.

2. Para Instruktur IMM kurang memiliki percaya diri untuk mengelola darimanapun kader berasal. Kadang para instruktur berhasil mengkader mahasiswa yang benar-benar awam dari pergerakan pelajar, namun kurang berhasil dalam mengkader kader yang berasal dari organisasi pelajar seperti Pelajar Islam Indonesia, Sie Kerohanian Islam yang kini berkembang pesat dan dalam lokal-lokal tertentu juga identik dengan gerakan Tarbiyah atau bahkan Ikatan Remaja Muhammadiyah sebagai realitas sumber kader IMM.

3. IMM kurang berhasil membangun percaya diri kader sebagai bagian dari gerakan mahasiswa maupun lembaga dakwah kampus.

4. IMM kurang mampu menghasilkan kader yang bisa menjadi penuntun kader baru Muhammadiyah dari organisasi Mahasiswa Islam lain untuk ber-Muhammadiyah dan percaya diri menghadapi realita pluralitas Muhammadiyah yang memungkinkan memasukkan kader Intelektual dari organisasi Mahasiswa lain.

Dari analisa kelemahan tersebut diatas, IMM perlu mereka ulang proses perkaderan baik untuk kader maupun instruktur. Langkah-langkah taktis perlu diambil pada stake holder perkaderan IMM, sehingga pemecahan-pemecahan masalah perkaderan seperti diatas bisa diatasi sebelum beranjak pada target perkaderan.

Secara umum kemudian nuansa Intelektualitas kemudian bukanlah monopoli terjemahan kata Kemahasiswaan dalam identitas IMM. Namun kata intelektualitas adalah sebuah konsekuensi ke-Islaman IMM yang kemudian akan mewarnai kehidupan Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatannya.

IV. Penutup

Dalam hal inilah kemudian Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah harus bisa mengidentifikasi diri, yang kemudian dimanifestasikan dalam diri kader-kadernya. IMM yang menyatakan diri sebagai organisasi kader tentunya harus bisa membawa kadernya dalam sebuah alam perkaderan yang bisa memungkinkan sebuah budaya profetik bila ingin terintegrasi dalam kelompok intelektual. IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah juga harus bisa melepaskan diri dari beratnya membawa nama besar Muhamamdiyah. Apalagi dengan ciri sebagai gerakan keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Tentunya sebuah spesifikasi Intelektual Islam yang mencakupkan dirinya pada ketiga identitas tersebut menuntut penjelasan yang tidak sekedar mistis, atau ideologis. Namun tentu harus bisa menurunkan dalam bentuk ide-ide cerdas yang bisa menggairahkan kadernya untuk membentuk diri sebagai bagian dari Gerakan Mahasiswa, Sebagai organ Dakwah Mahasiwa, sebagai bagian dari komunitas intelektual.

Sumber Bacaan :

Abdurrohman, Muslim 2003, Islam sebagai Kritik Sosial, Erlangga, Jakarta.

Fanani, Ahmad Fuad, 2003, Membangun Tradisi Intelektualitas Mahasiswa, Artikel Majalah Pelopor edisi 5 tahun I april 2003 IkatanMahasiswa Muhammadiyah Koordinator Komisariat Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Fakhry, Majid, 2002. Sejarah Filsafat Islam, Sebuah Peta Kronologis, Penerbit Mizan Bandung.

Kuntowijoyo , 1994, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Salahuddin Press, Yogyakarta

Kuntowijoyo, 1996, Identitas Politik Umat Islam, Penerbit Mizan, Bandung.

Pasiak, Taufiq 2003, Revolusi IQ/EQ/SQ, tinjauan Al qur’an dan Neurosains, Mizan Pustaka, Bandung.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Tim Perumus Kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balaipustaka, Jakarta.

Raharjo, M. Dawam 1996,Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim, Penerbit Mizan, Bandung.

Saefuddin, A.M. 1991, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, Penerbit Mizan Bandung

Shadili, Hasan et. All. Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru- Van Hoove, Jakarta.

Syamsuddin, Muhammad. 1997. Manusia dalam pandangan KH A Azhar Basyir, M.A. Titian Illahi Press, Yogyakarta.

Ward, Keith 2001, Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu, Mizan Pustaka, Bandung

[1] Makalah ini ditulis untuk Latihan Instruktur DPD IMM DIY 2003 sebagai salah satu persyaratan peserta

[2] Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada periode 2001-2002 (2003) .

[3] Ensiklopedi Indonesia, Hasan Sadilly Et Al.

[4] Ensiklopedi Indonesia, Hasan Sadilly Et Al. Pengertian tentang Mu’tazillah di atas penulis ambil dari pengertian umum di Indonesia (diwakili oleh ensiklopedi Indonesia). Sebenarnya dalam diri Mu’tazillah sendiri banyak beredar aliran-aliran yang berbeda secara signifikan. Seperti konsep kehendak bebas, konsep Al Qur’an sebagai Mahluk ( Sejarah Filsafat Islam – Sebuah Peta Kronologis, Majid Fakhry)

[5] Mahzab Mu’tazillah : Rasionalisme dalam Filsafat Islam dalam buku Manusia dalam pandangan KH A Azhar Basyir , MA.

[6] Sejarah Filsafat Islam, Sebuah Peta Kronologis, Majid Fakhry.

[7] Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

[8] dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

[9] (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

[10] “tafsir” versi Dr. Ir. Ahmad Muflih Saefuddin dalam buku Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi (hal.34) . A.M. Saefuddin dikenal sebagai seorang aktifis Politik PPP yang memiliki basis pendidikan pertanian di Institut Pertanian Bogor. Oleh Dwam Raharjo disebut sebagai bagian dari kelompok mubaligh atau Kyai Kampus. (buku Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa ).

[11] Dalam tafsir diatas, AM Saefuddin menggunakan kata intelek sebagai keterangan kata “berfikir”. Karena pada khasanah intlektual Muslim konsep intelek diterjemahkan sebagai konsep paduan zikir dan fikir, rasional dan intuitif seperti halnya konsep akal aktif pada ilmuan abad pertengahan, atau konsep Isyiq pada konsep Muhammad Iqbal. Dalam tradisi syi’ah kemudian berkembang dalam konsep teosofi yang kadang disebut sebagai kompromi antara filsafat (pemikiran) dan tasawuf (olah rasa-zikir). Dua tradisi inilah yang dalam alam fikiran “Islam ibadah/fiqh” ditinggalkan. Tasawuf dianggap bisa mendekatkan pada bid’ah-bid’ah sedangkan filsafat bisa mendekatkan pada krancuan-kerancuan beraqidah.

[12] Keith ward , dalam Tuhan Tidak Bermain Dadu (Mizan Pustaka, 2002). Kata agama penulis fahami dalam arti Spiritualitas. Hal ini karena ada perbedaan mendasar arti kata agama dari kata Inggris : Religion dan arti kata agama dari kata arab : Ad Din.

[13] Revolusi IQ/EQ/SQ , Mizan Pustaka 2003.

[14] Manusia, dalam pandangan KH A Azhar Basyir, MA.

[15]buku Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa hal 80. Dawam Raharjo dikenal pelopor dalam “islamisasi Ilmu” versi Ismail Raji Al Faruqi dengan mendirikan IIIT Indonesia selain tokoh LSM dan Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah 2000-2005

[16] Ini definisi versi Dawam Sendiri, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , Balaipustaka, ataupun dalam ensiklopedi Indonesia terbitan ichtiar baru-Van Hoove (sebagai referensi khalayak umum) tidak disebutkan perbedaan berdasarkan peran sosial seperti tersebut diatas.

[17] Golongan Intelektual ini kemudian lebih populer dengan sebutan Cendekiawan pada era 1980-an seiring dengan lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Namun sebenarnya kata cendekiawan ini secara politis diupayakan untuk meluruskan definisi kaum terpelajar hanya sebagai : sarjana sebagaimana pada orde lama ada ISMI (Ikatan Sarjana Muslim Indonesia) dan di awal orde baru (1969) dibentuk Persami (Persatuan Sarjana Muslim Indonesia).. Dawam raharjo,1996.

[18] Ir Sukarno dan Cokroaminoto bahkan tidak jelas keterlibatannya dalam “profesi tekniknya”, sedangkan dokter-dokter STOVIA diatas tersebut dalam sejarah sempat berpraktek sebagai dokter walaupun menjadi aktifis pergerakan.

[19] Membangun Tradisi Intelektualitas Mahasiswa, Ahmad Fuad Fanani, Majalah Pelopor edisi 5 tahun I, IMM Korkom UAD.

[20] ibid

[21] ibid

[22] Islam Kritik Sosial, Muslim Abdurrohman, erlangga 2003.

[23] Dinamika Sejarah Ummat Islam Indonesia (Salahuddin Press.1994). Sebenarnya ini pendapat Muhammad Iqbal

[24] Identitas Politik Ummat Islam, Mizan 1992

[25] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

[26] Dalam realitas, ada golongan ummat yang menganggap bahwa pemikiran seseorang bisa dianggap “tidak jelas” dan memiliki status “berbahaya” hanya karena dia adalah seorang “mu’alaf” dalam kalangan Intelektual Muslim, dianggap tidak memenuhi kriteria ulama versi golongan mereka, dianggap tidak banyak tahu tentang Islam, dianggap menggunakan kacamata barat dalam mendiskripsikan Islam atau memang benar-benar mu’alaf dalam Islam.

[27] Kuntowijoyo menyatakan bahwa saat ini kita dalam masa transisi antara kapitalis ke teknokrasi.

[28] Ide membangun sekolah pelopor adalah ide pada era kepemimpinan Piet Khaidir (2001-2003).

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam