Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Posted on Agustus 4, 2007

2


Sebuah proses ilmiah adalah proses dimana sebuah preposisi sudah melewati uji objektifitas walaupun inspirasi, atau bahkan hipotesis yang mendasari awalnya berasal dari kepercayaan mistik, keyakinan agama atau hal-hal yang bersifat subjektif lainnya.

Ilmuan sah-sah saja mendapat inspirasi yang kemudian menjadi hipotesis atau dasar asumsi peneilitan dari berbagai aktifitas empiris. Sama sahnya bila seorang ilmuan mendapat inspirasi dari keyakinan agamanya, kepercayaan mistisnya maupun kemampuan intuitifnya. Biasanya teknologi akan lahir ketika seseorang berfikir dengan bersandarkan dari bukti-bukti empiris yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh ketika seseorang menemukan alat baru, biasanya hal ini merupakan implementasi dari teori-teori yang sudah ada atau bahkan pengembangan alat yang sudah ada. Namun dalam teori-teori fisika fundamental, sering seorang ilmuan terpengaruh oleh berbagai kepercayaan mistis atau keyakinan agama yang dia anut.

Namun mengapa tidak semua orang beragama tidak menjadi seorang penemu? Atau tidak semua penemu adalah seorang yang religius ?

Disinilah yang kemudian harus kita jawab. Kadang seseorang yang “religius” mengalami kesalahan konsepsi tentang dunia ilmiah dan dunia mistis. Dalam wilayah ilmiah yang utama adalah fakta dan logika. Sedang dalam wilayah mistis yang digunakan adalah rasa. Disinilah mengapa kita kemudian mengenal tingkat-tingkat kesadaran. Kesadaran yang diasumsikan oleh kalangan Psiko Analisis sebagai ‘sesuatu’ yang bisa menggerakkan jasad diasumsikan memiliki tingkat-tingkat kesadaran. Dalam sebuah tingkat kesadaran indrawi, seseorang hanya akan percaya pada hal-hal yang dapat diindra oleh panca indra. Pada kondisi itu hal-hal lain masih menjadi baigian dari alam bawah sadarnya. Ketika seseorang mampu mengolah kesadaran logikanya, dia akan bisa menyadari adanya fenomena-fenomena logis yang kadang tidak perlu empiris. Namun tetap saja masih banyak kesadaran-kesqadaran diri yang masih menjadi bagian dari alam bawah sadarnya. Kesadaran indrawi dan kesadaran logika inilah yang sering dilatihkan dalam peddidikan formal selama ini. Keduanya yang menjadi pijakan metode ilmiah selama ini. Sesuatu yang ilmiah adalah yang logis sekaligus terbukti. Biasanya dalam fisika ada yang dinamakan Postulat, Teorema, Hipotesa, Teori dan Fakta. Tingkatan-tingkatan preposisi tersebut yang membedakan tingkat “empirisitas” sebuah presposisi ilmiah.

Biasanya seseorang yang kuat dalam tingkat kesadran empirisnya, dia akan mejaddi seorang yang ahli dalah detail. Dia akan bisa bekerja dalam hal-hal yang detail dan kadang seakan sepele. Namun Skeptis. Bila kemudian terus menjalani pola pikir seperti itu, dia bisa jadi aka terjebak dalam sebuah keyakinan materialis yang menganggap bahwa tingkat kessadaran yang lain hanyalah racun dan tidak ilmiah.

Kesadaran indrawi yang berlebihan sering akan membuat seseorang berpeluang mengalami kegoncangan-kegoncangan ketika melihat berbagai fakta-fakta yang sulit dijelaskan penyebabnya. Memang, segala keajaiban dalam dunia ilmiah dianggap sebagai ‘sesuatu yang belum sempat dicari penjelasannya’. Namun tetap saja matanya harus mengakui adanya keajaiban itu. Atau paling tidak kebetulan-kebetulan yang dialami seseorang. Walaupun penjelasan logis atau empirisnya belum bisa dia temukan. Dari pola fikir inilah kemudian seseorang akan menyusun preposisi-preposisi yan memungkinkan seorang ilmuan menyusun berbagai probabilitas. Preposisi-preposisi logis yang disusun inilah wujud kesadran logis. Kesadaran logis inipun butuh latihan untuk menggunakannya. Seseorang yang tidak terbiasa mengamati batu misalnya, akan sulit menarik berbagai deskripsi tentang asal-usul batu serta komponen-komponen penyusunnya walaupun dia memiliki hidung, mata, telinga, kulit dan lidah seperti seseorang yang ahli dalam geologi. Demikia pula ketika seseorang yang tidak terlatih daya logikanya, akan kesulitan menerangkan relasi –relasi antara berbagai kejadian dan fakta yang dia alami. Dalam kata lain, sebuah penemuan sering didahului oleh asumsi –asumsi yang disusun secara filosofis. Namun sebuah penemuan tidak akan bisa dikomunikasikan secara objektif jika tidak melalui pemeriksaan dan pengujian empiris.

Demikian pula kemampuan intuitif dan mistis. Kemampuan inipun sulit digunakan bila tidak pernah melatihnya. Kemampuan intuitif meruakan tingkat kesadaran yang juga sering hanya disimpan d alam bawah sadr seseorang. Kesadaran mistis juga begitu. Dua macam kesadaran ini memerlukan cara pandang yang berbeda dari kesadaran empiris dan logik. Karena kesadaran intuituf dan mistis membutuhkan asumsi yang berbeda tentang kebenaran dari kesadaran indrawi maupun kesadaran logis. Namun sekali lagi bukan berarti kesemuanya tidak saling berkaitan atau bahkan saling menafikkan. Kesadaran-kesadaran tersebut memiliki peran yang berbeda sebagai alat manusia dalam mengarungi kehidupannya. Bila peran-peran tersebut saling mengambil wilayah peran kesadaran lainnya, maka kesesatan berfikir akan terjadi yang kemudian dikenal dengan “salah faham’. Sebuah diskusi antara dua orang yang berbeda dalam menggunakan macam kesadaran akan mengalami ketersesatan atau “nggak nyambung’. Sebuah fenomena bisa dianalisis dengan berbagai macam kesadaran. Namun kesemuanya harus memiliki pijakan yang jelas.

Dengan adanya kesadaran seorang manusia akan mendapati dirinya utuh. Mungkin petualangan seorang manusia mencapai untuk menggapai puncak puncak kesadaran itulah yang akan menjadikan manusia mengenal dirinya seperti petualangan yang tidak mudah. Bisa jadi ini mirip dengan konsep cermin dari para sufi yang menganggap bahwa kesadaran seperti layaknya sebuah cermin yang melekat pada diri seorang manusia. Semakin dia mengenal dirinya, semakin bening cermin itu dan tidak banyak noda. Sampai pada ketika dia mencapai puncak kesadaran maka dia bisa melihat gambaran utuh dirinya. Metode pengenalan itulah yang kemudian oleh para sufi disebut sebagai Ma’rifat. Dimana ketika seorang hamba mampu mengenal Allah, maka dia akan mengenal dirinya.

Namun lantas apa yang harus dilakukan seorang manusia ketika dia berada dalam puncak kesadarannya ? Inilah yang kemudian dalam sejarah missi kenabian ditekankan. Ketika seseorang bisa mengenal dirinya sampai tahap paripurna, maka tugas seelanjutnya adalah melakukan revolusi total terhadap tatanan ketidak adlian yang dia temui. Ketika seseorang berada dalam puncak keasadaran, bukan berarti dia lantas berhenti hidup dan kemudian merasa sebagai Tuhan. Kalaupun cermin Tuhan itu sudah dia dapatkan, tentu saja bagaimanapun dia tetap cermin yang ‘hanya’ memantulkan bayangan Tuhan. Bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan seorang nabipun yang menerima wahyu dan berarti telah mencapai tingkat tertinggi akan kesadaran harus menjalankan risalah kenabiannya (prophetic mission) sampai terjadinya sebuah revolusi total. Tinggi tingkat kesadaran seseorang akan tercermin dari tingkat kearifan seseorang. Tinggi tingkat kearifan seseorang adalah seberapa besar manfaat yang dia bisa lakukan pada orang lain. Besar manfaat yang ditimbulkan kepada orang lain adalah ketika dia bisa membawa ummatnya kepada sebuah visi perubahan yang menolak segala hagemoni manusia atas manusia, penindasan dan ketidakadilan.

Petualangan ilmiah tentu saja adalah bagian dari petualangan religius yang bagaimanapun akan banyak termotifasi dan juga bervisi religius yang menjadi ideologi seseorang. Kesadaran indrawi, kesadaran logis, kesadaran intuitif bukanlah kesadaran-kesadaran yang saling menafikkan. Bisa jadi sekilas akan menjadi sebuah relasi-relasi dikotomis, tapi sejujurnya bahwa dalam sebuah penemuan ilmiahpun secara fundamental tetap termotivasi oleh keyakinan seseorang tentang sesuatu dan hal itu tidak terlepas dari keyakinan-keyakinan religius. Jadi walaupun menuntut argumentasi logis, membutuhkan bukti kongkrit, namun juga butuh sebuah konsep pembenaran tentang keberadaannya sebagai obyek ilmiah dan bahkan tujuan keberadaannya di dunia ini yang tetap tidak bisa diajawab hanya dengan sebuah asumsi sebagai sebuah fenomena kebetulan saja.

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Islam, Sains