Kelahiran MUSTAKBIRIN BARU

Posted on Agustus 4, 2007

0


Tatanan dunia teah berubah. Dari suatu sistem sosial agraris, industri dan sekarng pada era post industri. Agen penentu kebijakan juga kemudian berubah. Peran penentu kebijakan yang pada masyarakat agraris adalah para tuan tanah, kemudian berubah menjadi para pemilik modal perusahaan dan lambat laun akan berpindah pada kalangan teknokrat.

Kita bisa melihat gejala-gejala itu. Ketika dahulu politik merupakan panglima dalam sebuah tatanan sebuah negara, lambat-laut ekonomi akan menjadi sangat dominan dalam penentuan kebijakan . Namun dalam evolusi tatan dunia yang diperlihatkan di atas, maka kemudian akan segera terjadi ‘peperangan’ antara faktor teknologi dan ekonomi. Bila evolusi kebijakan itu benar , maka teknologi akan menjadi panglima.

Dalam sebuah masyarakat teknologi, yag menjadi parameter kekuasaan bukan lagi kemenangan politik atau akumulsi modal. Namun yang menjadi parameter adalah kecepatan untuk melakukan sesuatu, ketepatan perencanaan dan kerumitan sebuah teknologi. Sesuatu disini berarti apapun yang bisa dilakukan di dunia ini. Semakin cepat sebuah teknologi yang dikuasai suatu fihak, akan melibas teknologi yang dikuasai fihak yang lebih lembat. Sebuah perencanaan akan berperang dengan perencanaan yang lain, dan pemenangnya tentunya yang paling tepat perencanaannya (bagaimana yang tidak memiliki perencanaan ?_). Dan semakin rumit sebuah teknologi semakin mudah suatu fihak menghagemoni fihak yang memiliki teknologi yang lebih lambat.

Berakhirnya Negara Bangsa

Nation State dalam sebuah masyarakat teknologis akan mengalami kehancuran. Logika nasionalisme mejadi rancu ketika kekuatan negara untuk memaksa semakin lemah. Bisa kita lihat , dalam masyarakat ekonomis/pasar saja negara menjadi sangat tunduk dalam desakan pasar. Bahkan sekat-sekat batas geografis negara hanyalah sebuah batas-batas produk kaum primitif yang akan mudah ditembus bila ada kekuatan modal untuk menembusnya. Regulasi akan terpengaruh oleh kebutuhan-kebutuhan ekonomi, bahkan dalam pasar bebas tentunya regulasi-regulasi ini akan menjadi tidak banyak artinya. Nasionalisme benarkah masih akan menjadi sebuah jimat ? Padahal semua orang tahu bahwa nasionalisme adalah ikatan primordial rekayasa setelah adanya faham kesukuan yang lebih primordial.

Berakhirnya Demokrasi

Benarkah demokrasi masih mungkin ditegakkan dalam sebuah masyarakat teknologis ? Ini layak menjadi pertanyaan bagi para aktifis pro-demokrasi yang terus meneriakkan kebutuhan dunia akan demokrasi. Dalam masyarakat teknologis, akan terjadi sebuah pemetaan besar-besaran terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dari isi bumi sampai pemetaan neurologi akan terus diusahakan oleh masyarakat teknologis. BIsa kita bayangkan, dunia akan dimaukkan dalam sebuah data base yang akan menginterfensi semua hal di muka bumi ini. Data sebagai sebuah bahan mentah statistik terus dikumpulkan baik oleh satelit yang mengorbit bumi sehingga batas-batas primordial ditelanjanga, hingga scanner-scanner organ tubuh manusia yang terus akan disempurnakan untuk memetakan sedetail mungkin setiap individu. Terus dimanakan kebebasan..? Proses desentralisasi yang dilakukan dalam masyarakat politik dengan pelimpahan kekuasaan ke daerah atau proses desentralisasi modal yang dilakukan oleh masayrakat pasar dengan menyebar berbagai macm kredit untuk kalangan non Pemodal besar akan hancur luluh lantak dalam masyarakat teknologis. Bila kekuasaan bisa direbut dengan aksi masa atau revolusi politik, tanah bisa dibagi dengan rvolusi agraria, kemudian modal bisa direbut dengan (paling ekstrim) perampokan, maka koompetensi teknologi tidak akan sesederhana itu. Teknologi semakin rumit semakin hanya milik ahli-ahli yang membutuhkan proses lama tanpa bisa ditransfer begitu saja. Kecepatan yang bisa dicapai dengan teknologi juga tidak bisa serta merta ditoleransi sebuah masyarakat tertentu. Dan perencanaan yang tepat memerlukan sebuah tim elit teknologi yang tidak bisa dibangun dalam setahun dua tahun. Sehingga lagi-lagi sentralisasi akan terjadi. Ketika ilmuan dan insinyur berkumpul di sekitar penguasa, maka saat itulah kematian demokrasi akan terjadi. Apapun yang kita minta tetap dalam sebuah skenario besar penguasa yang sentralistik. Tetapi meninggalkannya tentu saja membuat kita terperosok menjadi mahluk primitif yang kemudian akan menggejalakan fundamentalisme baru. Lihat ketika masyarakat proletar melawan tuan tanah, mereka berawal dari kefrustasian karena tidak mampu memiliki tanah (apapun sebabnya). Ketika kaum pekerja memberontak kepada penguasa modal, pun diawali dari kefrustasian mereka karena jangkauan mereka atas modal sangatlah jauh (apapun penyebabnya). Dan dalam tatanan masyarakat teknologis, golongan seperti apakah yang bisa dianggap proletar? Tentu saja kaum nir kompetensi yang akan kita tunjuk. Tetapi apa yang harus mereka perbuat ? Ketiak faktor utama adalah data, apa yang bisa diperbuat ketika mereka menguasai data ?

Perang Perencanaan

Perencanaan menjadi satu senjata paling penting dalam masyarakat teknologi. Ketika data statistik dikumpulkan dan kemudian perencanaan dibuat, maka sebuah skenario akan dikerjakan setelah meyiapkan perangkat teknokratis dari berbagai disiplin teknologi yang sangat spesialis. Penguasa politik bila bukan teknokrat akan menjadi wayang yang berada diatas sebuah klan kepentingan semacam kelompok lobi Yahudi di Amerika. Dan bila sebuah skenario dijalankan maka mau tidak mau akan terjadi perang perencanaan. Posisi intelejen sebagai pengumpul data menjadi sangat penting dan pemenangnya tentu saja yang lebih akurat, lebih cepat dan lebih terencana dalam melakukan perencanaan.

Hilangnya Penghayatan

Penghayatan akan nilai-nilai primordial manusia menjadi sulit karena dunia dipaks hidup dalam alam fikiran rasional, Objektifitas data dan kecepatan bergerak. Ketika masyarakat agraris masih dominan, nilai-etika dan religiusitas menjadi makmur dan menjadi hal yang mudah untuk dikejar. Ketika mayarakat ekonomi berkuasa, goncangan terhadap nilai-nilai religius terjadi. Ekspresi keagamaan berubah bentuk. Agama masyarakat pasar menghendaki sebuah agama yang bisa dilakukan sambil dagang, penghayatan dilakukan dalam realitas produksi , transaksi dan konsumsi. Dan beberapa agama tidak mampu bertahan dalam realitas ini. Masyarakat Atheis sesunguhnya adalah msyarakat yang kebingungan mencari agama yang bisa dihayati dalam relitas kerja, produksi, transaksi dan konsumsi.

Dalam masyarakat teknologis, akan semakin kesulitan manusia menghayati agamanya. Pada intinya mereka tetap memerlukan agama untuk menjadi bagian dari hidupnya. Namun kemudian seiring dengan perkembangan masyarakat ke arah masyarakat teknologis, seberapa besar mereka akan bertahan dalam keyakinan agama mereka yang primitif. Bisa jadi akan semakin banyak manusia Atheis yang harus jujur terhadap dirinya bahwa agamanya memang sudah usang dan ketinggalan jaman. Dan akan kita buktikan, agama mana yang akan terus bertahan. Atau pemahaman agama seperti siapa yang akan bisa mengakomodasi sebuah masyarakat yang menghendaki kecepatan, tidak memperdulikan ruang dan waktu serta membuthkan kecermatan perencanaan.

Peluang Mustakbirin Baru

Dalam Islam dikenal adanya terminologi Mustadzafin dan Mustakbirin yang berarti tertindas dan penindas. Dalam masyarakat agraris yang menjadi Mustakbirin adalah tuan tanah – tuan tanah yang kejam. Dalam masyarakat kapitalis yang menjadi Mustakbirin adalah para pemilik modal yang tidak memperdulikan kaum fakir miskin (nir-modal). Dan dalam masyarakat teknologis nanti yang akan menjadi Mustakbirin tentunya adalah para teknokrat yang tidak memperdulikan realitas kaum bodoh dan terbelakan sebagai sebuah realitas yang harus dibela.

Sekali lagi, regulasi akan tergantung perencanaan para teknokrat. Distribusi modal tergantung juga perencanaan kaum teknokrat. Pengambilan keputusan baik politis maupun unvestassi dipengaruhi dari data statistik dan arumentasi objektif yang hanya bisa diakses para ahli yang semakin lama semakin sedkit dan elit. Dan bila agama tidak ada yang bisa bertahan dalam logika era kompetensi ini, bisa jadi interfensi moral dan etika akan mencapai titik nol dan manusia akan benar-benar menuhankan dirinya. Akhirnya sebuah argumentasi objektif akan sarat dengan kepentingan subjektif. Penindasan akan semakin nyata. Dan mungkinkah agama bertahan ?

Karakter Agama Masyarakat Teknologis

Masyarakat teknologis seperti yang digambarkan di atas membutuhkan sebuah agama yang bisa menjelaskan kondisi yang mereka alami tersebut. Sebelum melakukan sebuah ritual, masyarakat teknologis akan mempertanyakan bagaimana agama masih bisa menjadi sesuatu yang ‘diatas mereka’. Mereka membutuhan agama yang ‘gaul’ terhadap realitas mereka. Tentunya bukan agama yang dipaksa gaul, namun benar-benar gaul dari asalnya. Kemudian merekan akan mempertanyakan bagaimana kedudukan mereka sebagai ‘orang pintar’ dimata Tuhan, mereka akan bertanya apa saja yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan sebagai ‘orang pintar’. Mereka akan bertanya bagaimana bentuk relasi sosial yang diperbolehkan ketika mereka sudah bukan manusia-manusia yang terikat domisili geografis lagi. Dan banyak hal seperti bagaimana sikap mereka terhadap ‘orang bodoh’ sampai perkara bagaimana Tuhan membuat mereka menjadi ‘pintar’ dan ‘bodoh’. Dan bila suatu agama tidak bisa menjelaskannya maka siap-siaplah akan menjadi artefak sejarah semata karena ditinggal pengikutnya.

Tulisan Lain:

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


Posted in: Islam