Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Posted on Agustus 4, 2007

0


Sejak awal 80’an wacana perubahan lingkungan secara Global terus menggema. Banyak kajian-kajian, proposal-proposal kesepakat multi nasional hingga gerakan para enviromentalist dari yang biasa, moderat sampai radikal sudah dilakukan. Sehingga isu pemanasan global, perubahan iklim, atau perubahan paradigma tentang konsep bumi terus diupayakanmenjadi bagian dari isu utama akhir abad 20 hingga awal abad 21 ini

Namun sepanjang isu itu terus digulirkan, agaknya ummat Islam sebagai komunitas multi identitas (tidak hanya sekedar identitas religius) tetap belum bisa menunjukkan perhatiannya pada isu ini. Bisa jadi isu perubahan global ini menjadi sangat mewah bagi komunitas Islam ? Karena hingga sekarang komunitas ummat Islam masih berkutat pada isu-isu primitif seperti reorientasi identitas, pergulatan Islam politik, hingga keterpurukan kondisi ekonominya saat ini.

Benarkah isu lingkungan menjadi sebuah isu yang harus disikapi setelah kita berhasil memenuhi kebutuhan dasar seperti kemerdekaan politik, perlindungan hukum dan terjaminnya kebutuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan ekspresi budaya ? Benarkah isu ligkungan sedemikian mewah ? Dalam kata lain, benarkah isu lingkungan merupakan isu yang harus disikapi setelah mengalami sebuah kondisi krisis daya dukung lingkungan dialami sendiri seperti di eropa maupun amerika utara?

Mungkin ummat Islam harus membalik logika itu. Mayoritas kondisi lokal wilayah-wilayah yang menjadi basis komunitas ummat Islam masih relatif perawan dibanding negara-negara maju. Mayoritas wilayah-wilayah muslim masih memiliki kondisi alam yang relatif asli dan belum banyak dijadikan ajang eksploitas besar-besaran dibanding di negara maju. Bahkan mayoritas wilayah yang ditinggali ummat Islam mengalami perubahan lingkungan secara drastis setelah mengadopsi model pembangunan versi negara-negara maju.

Tidak mungkinkah bila ummat Islam sebagai sebuah komunitas yang mendiami wilayah-wilayah itu memiliki kesadaran saat ini dalam mengelola wilayahnya. Mungkin saja kearifan lokal yang tentu saja tidak mungkin terlepas dari intervensi teologis yang difahaminya bisa menjadi alternatif model gerkan versi ummat Islam sendiri. Karena secara normatif sebenarnya ajaran Islam telah mengandung intervensi teologis yang cukup tinggi kepada pemeluknya. Bahkan dalam hakekat ajaran Islam, intervensi teologis ini harus di dakwahkan kepada ummat lain untuk bersama-sama membangun bumi.

Memang. Kesadaran akan perjalanan sejarah harus menjadi prioritas utama dalam membangun kesadaran ummat Islam saat ini. Ketika sebagian besar ummat Islam terpuruk dalam provokasi iklan yang mengubah kesadaran menjadi kesadaran kapitalistik yang konsumtif, saat ini perlu sebuah ‘perang ilan’ yang berorientasi pada upaya penyadaran ummat akan krisis sejarah kemanusiaan, krisis daya dukung tempat mereka berpijak, yang bahkan secara teologis bisa diartikan sebagai krisis kepercayaan Allah SWT atas kekhalifahan manusia di bumi ini.

Tidak perlu menjadi negara Industri terlebih dahulu bila ingin menjadi ummat terbaik dan memberi kontribusi riil pada penyelamatan keseimbangan sistem yang berlangsung di bumi. Bumi ini terus akan bergerak ke kondisi negatif jika ummat manusia tidak mengusahakannya. Dan bila ummat Islam terus sibuk dan terlena dengan isu-isunya sendiri, bisa jadi ukuran kemuliaan dalam bentuk amal ibadah upaya penyelamatan bumi kalah dengan komunitas ummat lain. (tentunya terlepas dari perdebatan masalah konsep keselamatan di akhirat). Ummat Islam harus masuk dalam publick sphere gerakan Save The Earth yang saat ini telah menjadi sebuah isu yang mencakup permasalahn multi dimensional.

Bisa jadi secara teologis, keyakinan ummat Isalam dalam memandang isu ini memiliki permasalahan. Keyakinan bahwa Allah SWT adalah penentu hari kemudian tentunya tida mungkin bergeser. Namun keyakinan bahwa segalanya kita serahkan kepada Allah SWT tanpa usaha maksimal adalah sebuah kesesatan. Keyakinan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang utama adalah sebuah keyakinan yang tidak mungkin kita tolak, namun keyakinan bahwa bumi (termasuk kondisi fisik dan sosialnya) kita abaikan bukanlah sebuah keyakinan yang tepat. Dimana kekhalifahan manusia di muka bumi ! Dimana upaya manusia untuk mencari ridho Allah dan keselamatan ketika mereka membiarkan perusakan bumi secara global ini terus berlangsung. Sekali lagi . Tidak perlu menunggu kita memiliki kondisi ekonomi yang mapan kalau kita ingin menjaga lingkungan kita. Tidak perlu kita mengalami dulu sesaknya udara akibat akumulasi karbondioksida dalam udara kita untuk berteriak lantang dan kemudian mengutuk sebagai pengkhianat amanat Tuhan. Save Our Earth ! Ini sebuah gerakan yang tidak mungkin kita tolak. Radikalisasai gerakan Enviromentalist di kalangan muslim memerlukan upaya penaikan tensi yang seharusnya terus dilakukan. Mungkin ummat Islam harus iri dengan teman-teman Green Peace yang secara radikal mentaruhkan nyawanya demi menghadang pengiriman limbah nuklir dengan menghadangnya di tengah lautan. Atau upaya partai hijau di Jerman yang memperjuangankan isu lingkungan dalam wacana politiknya di sana.

Posted in: Islam