GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Posted on Agustus 4, 2007

3


Di dalam dinamika kebudayaan bangsa ini, kita memiliki media ekspresi pemikiran dan alat komunikasi keresahan diri bangsa kita dalam bentuk Film. Adalah sesuatu yang menarik ketika Mils Film pada 14 Juli 2005 meluncurkan Film terbarunya yang bertajuk GIE. Film ini mungkin akan membawa genre baru Fim Indonesia setalah Film drama remaja dan Film Horor di layar bioskop kita. Bahkan tidak sekedar itu, ada harapan yang cukup besar terhadap film ini untuk pembentukan karakter bangsa ini. Sebuah film yang mungkin ingin mendialogkan, dan semoga tanpa memposisikan diri sebagai guru, tentang idealisme sebagai bagian dari kelengkapan manusia. Idealisme dan mungkin dalam bentuk ekpresi nasionalisme generasi baru. Generasi yang identik dengan Borjuasi di era globalisasi.

Mulai 14 Juli ini, diluncurkan secara serentak sebuah film yang bertajuk GIE. Film yang ‘konon’ memakan biaya terbesar sepanjang sejarah perfilman Indonesia itu merupakan karya sineas muda bangsa ini, yang telah menyulutkan optimisme perkembangan Film nasional. Sineas generasi ini yang terbukti membidani kelahiran generasi mereka sendiri ketika kondisi perfilman Indonesia terpuruk arus pragmatisme dan komersialisasi tanpa idealisme. Penuh dengan tema-tema Seks dan Mistis yang mengajak penonton membuang jauh-jauh nilai dan logika.

Yang cukup menarik dari film ini, adalah kabar dimana film ini dibuat berdasarkan sebuah buku “ Catatan Seorang Demonstran” . Sebuah catatan harian seorang tokoh nyata SOE HOK GIE , seorang aktivis ’66 yang memilih jalan untuk tidak mengikuti jejak Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, dan aktifis-aktifis lainnya yang selesai berperang melawan Soekarno, mereka menjadi kaki tangan Soeharto.

Terlepas dari kontorversi yang kemudian berkembang ketika Mils Film memilih Nicolas Saputra untuk memerankan SOE HOK GIE, patutlah untuk terbetik sedikit harapan dalam benak kita tentang efek dari film ini sebagai bagian dari upaya Pembangunan Karakter generasi muda kita. Kita tahu, pasar Film generasi mutakhir di Indonesia adalah generasi muda masa kini yang cenderung memilih gaya hidup hedonis, atau identik dengan kalangan berpunya yang borjuis. Mungkinkah tema GIE terlalu berat diterima mereka ? Benarkan kita se-apatis itu terhadap idealisme generasi muda kita sekarang ?

Memang, ada sebuah anggapan bahwa generasi muda kita yang hidupnya berkecukupan (atau bergaya hiudp cukup) itu sudah berat kalau harus diajak memikirkan negara, realitas sosial, apalagi hingga isu-isu politik dan internasional. Generasi muda kita saat ini ada yang menilai bahwa mereka adalah manusia-manusia pragmatis yang hidupnya adalah : lahir sudah kaya, mengkonstruksi cita-cita profesi, sekolah dan kemudian kuliah, pendalaman materi bukan prioritas, dan kehidupan profesional adalah pilihan hidupnya kelak. Identitas diri menjadi sesuatu yang sangat penting bagi generasi ini. Menggabungkan diri menjadi anggota “jama’ah” tertentu adalah sebuah kebutuhan. Jama’ah disini bukanlah melulu jama’ah konvensional, namun jama’ah komtemporer seperti jama’ah penggemar motor tertentu, jama’ah pengguna mobil tertentu, jama’ah dengan hobi tertentu, atau jama’ah sebuah produk makanan tertentu. Jama’ah disini juga tidak melulu dibatasi oleh batasan geografis, namun jama’ah disini bisa merupakan jama’ah lintas geografis, karena perkembangan teknologi informasi belakangan ini. Bahkan, posisi geografis bukanlah sebuah pemikiran rumit, karena mereka terlahir dengan sebuah visi hidup bukanlah harus berhenti di sebuah titik geografis tertentu, kalaupun planet lain bisa dihuni, kita coba selagi kita bisa. Mereka nukan warga geografis, namun warga ide.

Agaknya untuk membenarkan asumsi di atas kita perlu berfikir ulang. Di dalam generasi ala kontemporer ini agaknya tetap merupakan sebuah generasi yang bisa dipisahkan secara tegas dalam dua golongan besar. Golongan yang idealis dan golongan yang pragmatis. Hanya saja, model pembelajaran, pendalaman dan ekpresi bagi golongan idealis memiliki cara yang berbeda dari model para idealis generasi sebelumnya. Sebutlah fenomena Perfilman Indonesia. Dulu sempat muncul Film Bendera. Film itu bisa jadi ada yang beranggapan Film salah generasi. Mungkn ada yang berujar “ Hari gini gini masih ngomong nasionalisme?”. Namun bila kemudian kita lihat Film itu, kita akan tahu, jaman gini untuk membangkitkan nasionalisme tidak harus dengan cara menyuruh anak-anak muda itu upacara tiap hari senin. Atau fenomena perang hacker ketika ada krisis BBM dan Ambalat. Hacker Indonesia yang merupakan bagian dari generasi kontemporer itu telah menunjukkan cara ber-nasionalismenya.

Mungkin ketika melihat Film generasi baru di Indonesia, kita juga bisa memisahkan Film-Film itu dalam dua kelompok besar, Film yang tidak membawa idealisme dan Film yang membawa Idealisme. Sekali lagi, idealisme disini tidak melulu harus tampil dalam judul-judul seperti Bendera atau GIE, namun juga bisa tampil dalam Daun di Atas Bantal , Arisan, Mengejar Matahari hingga Ada Apa Dengan Cinta. Pesan yang membawa sebuah Idealisme nyampai dalam gaya anak model sekarang. Pendek kata, Idealisme jaman sekarang cenderung memilih jalan liberal, merupakan sesuatu yang multi interpretif dan tidak membelenggu penonton dengan doktrin-dontrin tertentu. Bahkan setelah pulang dari Bioskop, penonton seperti dipersilahkan untuk mengkonstruksi Idealismenya sendiri.

Efektifkah? Parameternya tentu saja bukan sebatas penonton yang banyak, atau besarnya penghasilan yang akan didapat produser dalam kurun waktu pemutaran. Namun akan kita lihat di kemudian hari baik dalam perkembangan karakter generasi muda kita, dan juga dalam perkembangan tema film-film pasca GIE.

Kembali ke GIE, film ini akan menjadi sebuah bahasan yang menarik karena disini berkolaborasi antara : Idealisme, Profesionalisme, Strategi Pasar dan Kekuatan Modal. Kita tahu, GIE diproduksi berdasarkan sebuah idealisme seseorang yang bisa jadi sangat idealis di masa itu. GIE juga diproduksi dengan dedikasi dan profesionalisme yang tinggi. Film ini agaknya tidak melulu menjual idealisme (Atau bahkan idelogi ) semata. Bila dilihat dari para pemain dan model promosinya, Film ini juga (tampaknya) berhasil melakukan kompromi dengan relitas pasar. Ada bintang tenar Nicholas Saputra, Wulan Guritno, ada Sound Track-nya Eros Seila On 7 yang mungkin bila dilihat dari kacamata penyampaian idealisme secara konvensional hal tersebut adalah sesuatu yang dipaksakan demi selera pasar. Seperti juga kontroversi yanga terjadi ketika cover depan buku “Catatan Seorang Demonstran” edisi baru dari LP3ES yang menampilkan wajah Nicholas Saputra bukan SOE HOK GIE asli. Dan yang menarik, Film yang berbiaya 11 Milyar ini juga menggaet kekuatan modal, yaitu Phillip Morris ( dulu H.M Sampurna) dengan A Mild-nya. Agaknya Sang Produser, Mira Lesmana, menerabas patron gerakan berbasis ‘idealisme’ yang biasanya malu-malu kucing untuk berkolaborasi dengan pemodal demi gerakan anti-Neoliberalismenya. Atau mungkin Mira Lesmana juga akan mengatakan bahwa pemodalpun terbagi dalam dua kelompok besar , pemodal yang Humanis-Idealis dan pemodal yang benar-benar serakah.

Mungkinkah idealisme yang diusung oleh GIE dengan segala pernak-perniknya bisa membuktikan bahwa generasi ‘Borju’ kita juga terbelah dalam dua kelompok besar: Idealis dan Tidak Idealis ? Mungkin setelah tanggal 14 Juli besok kita baru bisa membuktikannya. Mungkin juga tidak secepat itu kita akan secara gamblang membuat pemetaan. Namun, paling tidak upaya GIE ini harus kita hargai. Model gerakan (kalo bisa dibilang gerakan) ini bisa menjadi referensi bagi para pengusung idealisme-idealisme yang lain. Entah itu yang menamakan Gerakan Mahasiswa, atau yang menamakan Gerakan Dakwah Keagamaan, atau yang menamakan Gerakan Sosial. Gagal atau berhasil tetap sebuah data bagi kita. Semoga jawaban mayoritas bukan keluhan seorang tokoh dalam Film Brownies “ Sudahlah, jangan ngomong Kapitalis sayang,…Pusing…”.

Arif Nur (Penikmat Film)

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Film