“Sains Itu Berkembang !”

Posted on Agustus 4, 2007

1


Kata Kunci Pengajaran Sains yang Terlupakan

Seorang guru dalam memberikan sebuah pengetahuan terkadang terjebak dalam sebuah logika konsep pengetahuan yang bertumpang tindih dengan konsep kebenaran. Seorang guru sains kadang terlupa untuk memberi pengantar pada mata pelajaran yang diampunya tentang hakekat dasar sains bahwa sains adalah pengetahuan bukan kebenaran. Sehingga terkadang siswa kesulitan dalam memahami konsep-konsep sains ketika harus mencari penjelasan mengapa dalam sejarah sains terdapat rumus-rumus (konsep-konsep alam) yang kadang seperti bertentangan, atau paling tidak, kurang memperlihatkan keselarasan.

Kebenaran tidak mungkin berubah karena kebenaran adalah ‘sesuatu’ yang inheren di alam ini. Dalam sains, kebenaran adalah sesuatu yang kita cari (baca : dekati) terus dengan mencari rumusan-rumusan alam tersebut. Sehingga belajar sains pada hakekatnya adalah mempelajari alam dengan pengertian : belajar memahami alam semaksimal mungkin. Pengertian kebenaran dan pengetahuan model Dr. Kuntowijoyo ini untuk menjembatani kesulitan seorang siswa memahami konsep ‘kebenaran itu relatif’. Karena kata ‘kebenaran’ itu relatif akan sulit difahami ketika seorang siswa (mungkin di kemudian hari) harus berhadapan dengan kebenaran dalam arti wahyu dan keimanan. Apalagi di sebuah bangsa yang religius seperti di Indonesia.[1]

Karena itulah, dalam mempelajari sains pada hakekatnya adalah mempelajari pengetahuan untuk mendekati kebenaran. Sehingga : Kebenaran itu Tetap dan milik Sang Maha Benar, sedangkan hasil belajar kita tentang Sains itu adalah pengetahuan yang terus berkembang dan merupakan usaha maksimal untuk mendekati kebenaran.

Seorang siswa dalam mempelajari sains seyogyanya dibayangkan sama ketika dia sedang bermain puzle dalam bidak puzle yang luas dan terpotong dalam ribuan potongan. Ketika sedang mempelajari sebuah rumusan gravitasi, anggap saja sedang mencoba membangun pola di sebuah sudut bidak puzle. Sehingga asumsi tentang hukum gravitasi yang berlaku universal diubah menjadi ‘sesuatu yang dianggap oleh seorang Newton yang berdiri di sebuah sudut bidak puzle sebagai pola keseluruhan puzle’. Sehingga siswa di kemudian hari tidak mengalami kesulitan jika harus menjelaskan mengapa teori gravitasi Newton bisa tidak berlaku dalam sebuah keadaan tertentu. Hal ini akan dimengerti oleh siswa bahwa ‘mungkin saja keadaan tertentu tersebut adalah keadaan pada ujung bidak puzle lain yang memiliki pola berbeda dengan penglihatan Newton’.

Memang, dalam model pendidikan warisan orde baru, atau bahkan warisan kolonial agak sulit meyakinkan siswa bahwa pengetahuan itu adalah ‘sesuatu’ yang tidak serta merta pasti. Apalagi dengan doktrin orang – orang tua yang menyatakan bahwa sains itu adalah ‘Ilmu Pasti’. Mungkin kita semua teringat, bagaimana ‘stress’ nya kita dulu ketika ada dua guru mengajarkan ‘kebenaran’ yang sama dalam pengertian yang berbeda. Kita kemudian menjadi pusing, dan kemudian membuat kita memilih jalur pragmatis ketika belajar. Ketika ikut guru yang satu, kita mengikuti ‘kebenaran’ versi guru tersebut, dan ketika kita ikut pelajaran guru yang lain, kita mengikuti guru yang lain. Masalah konsep kebenaran dalam diri seorang anak itu tidak terselesaikan dan bila seorang anak itu memang sejak kecil memiiki jiwa-jiwa saintis, dia akan memiliki trauma dan sangat mungkin berkembang menjadi pribadi yang terbelah.

Berbahayakah ! Mungkin saat ini dalam keadaan bangsa yang masih dominan untuk berfikir pragmatis dan tidak jauh-jauh dari perut dan dompet, masalah split personality akibat tertingalnya kata kunci ‘ sains itu pengetahuan, bukan kebenaran. Sains itu berkembang’ tidak begitu terlihat. Paling tidak masih banyak anak didik kita yang memilih melupakan permasalahan masa kecil itu dimasa dewasanya karena ketika dewasa dia harus memikirkan banyak hal yang lain, sekitar perut dan dompetnya. Namun sesungguhnya bila hal ini tidak diperhatikan, akan terus mematikan banyak potensi siswa yang bisa berjiwa sainstis (tidak harus berprofesi sebagai saintis) yang tentu saja akan menjadi harapan bangsa dan ummat ini untuk keluar dari keterbelakangan. Dan bila konsep kebenaran dan pengetahuan ini tersampaikan kepada siswa, siswa akan berkembang sebagai seseorang saintis atau seseorang ‘yang mengerti sains’ tanpa harus berpotensi menjadi seseorang yang ateis.

Arif Nur Kholis dari :
“Antara Bulaksumur dan Matahari”
[Refleksi-refleksi yang nyaris tidak berguna]


[1] Penulis tidak membahas konsep ‘kebenaran’ dalam ilmu yang berdasarkan Wahyu, karena tulisan ini tidak fokus ke masalah itu.

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam


 

Posted in: Pendidikan, Sains