“ Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi”

Posted on Agustus 4, 2007

0


Ini Tahun 2005. Begitu banyak agenda yang seharusnya diantisipasi Gerakan Mahasiswa Muslim saat ini. Sebagai sebuah kelompok intelektual muda di dalam komunitas Muslim, Gerakan Mahasiswa Muslim menjadi cukup strategis karena merekalah salah satu nukleus ummat yang diharapkan masih memiliki sensitifitas dengan suara kebenaran, rintihan penderitaan rakyat sekaligus amanat dakwah dalam sebuah komunitas rakyat indonesia bernama Kampus.

Dakwah di kalangan mahasiswa menjadi penting karena dengan efektifnya gerakan dakwah di kampus berarti memungkinkan terekrutnya kader-kader yang akan menjadi bagian dari gerakannya. Sebuah lembaga dakwah mahasiswa bisa saja memiliki fokus gerakan di luar kampus (baca: masyarakat), namun gerakan ini tidaklah akan menjadi efektif bila dakwah di dalam kampus tidak dilakukan. Darimana mereka akan mendapatkan kader bila dakwah kampus tidak dilakukan ? Atau dalam kata lain, bagaimana mereka akan membangun komunitas uswah bagi masyarakat bila tidak dimulai dari komunitas kampus ?

Selain itu, dakwah kampus dalam arti luas juga berarti : berperang terhadap gejala pragmatisme mahasiswa. Perubahan kondisi masyarakat kampus jangan kemudian dijadikan kambing hitam. Kalau saat ini masyarakat kampus terdiri dari para mahasiswa kaya yang ‘konon’ anak mami, itu hanya asumsi yang menjadi pembenaran kegagapan kita mengantisipasi perubahan saja. Dimana-mana, kelompok Mahasiswa tetaplah kelompok yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Bukan alasan orang kaya tidak bisa menjadi bagian dari gerakan dakwah, atau gerakan Mahasiswa. Karena Dakwah sejatinya adalah rekayasa sosial untuk menyadarkan ‘bahan mentah apapun’ agar sadar akan amanah kebenaran yang diberikan di pundaknya. Kalau keadaan Mahasiswa Kaya dianggap sebagai sebab lesunya dakwah kampus dan matinya gerakan kritis Mahasiswa, kita berarti menafikkan realita sejarah bahwa Rasulullah dalam dakwahnya juga berhasil merekrut kaum kaya ke dalam barisan dakwahnya. Sejarah juga membuktikan bahwa para pemimpin Indonesia dahulu juga berasal dari kalangan’mampu’. Soekarno adalah seorang yang mampu. Hatta dengan kemampuan finansial yang memungkinkan bersekolah ke negeri Belanda tentu saja berasal dari kalangan ‘mampu’.

Kemudian, agenda yang tidak kalah pentingnya seiring proses dakwah kampus dan perkaderan mahasiswa, adalah agenda Humanisasi IPTEK. Agenda ini sulit untuk dikatakan sebagai agenda yang tidak penting. Karena saat ini kita tahu, bahwa pendidikan di Indonesia sudah meninggalkan nilai sebagai bagian integral dari IPTEK. Nilai yang seharusnya menjadi pembimbing IPTEK sebagai kompetensi kaum intelektual kita seakan menemui moment kematiannya. Akhrinya, pendidikan di Indonesia kemudian menghasilkan pribadi-pribadi yang split. Kejujuran , Fairness, Wisdom, Keterbukaan, Spritualitas sebagai sifat-sifat dasar manusia sering tidak memperoleh tempat dalam praktis IPTEK. Dalam kalimat pendek : Suara hati telah dicampakkan dari buku-buku IPTEK. .

Di perguruan tinggi umum, hal ini menjadi sebuah massalah yang pelik. Karena asumsi relatifitas kebenaran, ternyata asumsi tersebut menggerus wilayah etika dan nilai. Bukankah apapun agama manusia tetap mengenal cinta, kejujuran, fairness, wisdom, spiritualitas, keterbukaan ? Sehingga ketika masyarakat intelektual formal kampus tidak bisa diharapkan lagi, tugas Gerakan Mahasiswa Muslim menjadi bertambah. Menghasilkan profesional yang mengenal IPTEK yang terintegrasi dengan nilai tentunya menjadi bagian dari pendidikan masyarakat kampus.

Bersama agenda-agenda di atas, ada agenda yang tak kalah pentingnya untuk direncanakan saat ini juga. Penyikapan terhadap kondisi bangsa ini adalah kondisi mendesak yang tidak boleh diabaikan oleh Organ Gerakan Mahasiswa manapun. Dimana kita tahu, amanat reformasi tujuh tahun yang lalu sudah menemui ajalnya. Pemerintah dan para elit yang berkuasa diatas pengorbanan rakyat dan mahasiswa yang memperjuangkan reformasi di negeri ini sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk membawa bangsa ini ke arah reformasi total. Jendral Besar Soeharto masih terkekeh dan hidup bebas bersama harta korupsinya yang tak tersentuh. Kroni Soeharto sekarang bertebaran di lembaga eksekutif dan legislatif. Partai Golkar yang menjadi penyokong utama Orde Baru kini menjadi penguasa riil baik di eksekutif maupun legislatif. Ginanjar Kartasasmita yang ‘orang Golkar’ dan tentu’ Pembantunya Soeharto’ kini menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI. Lantas kepada siapa kita akan berharap amanat reformasi bergulir kembali ? Rakyat sudah jenuh dengan retorika, bukan karena sering atau kuatnya demo Mahasiswa, tapi karena retorika para elit baik di Senayan maupun Istana.

Adalah sangat mungkin bila kemudian saat ini Gerakan Mahasiwa Muslim bersama Organ Gerakan lainnya membangun kembali kekuatan dan menciptakan moment untuk menghadapi Pemerintahan SBY yang ‘I Don’t Care’ dengan penderitaan rakyat tersebut. Arus Gerakan Reformasi Baru harus mulai dibangun kembali. Penggalangan massa mahasiswa dan rakyat harus menjadi agenda bersama semua elemen untuk menuntut Pemerintahan SBY menurunkan harga BBM dan Kebutuhan Pokok. Harta Soeharto masih banyak, itu harus menjad aset negara. Nasionalisasi Perusahaan Para Koruptor , jaminan penegakan HAM dan Pendidikan Murah untuk Rakyat harus menjadi tuntutan pemerintahan pertama yang terpilih dari hasil pemilu langsung ini. Hati-hati, pemilihan presiden langsung bukanlah akhir dari segala perjuangan menegakkan amanat reformasi. Masih banyak amanat reformasi yang belum dipenuhi negara dan Gerakan Reformasi Baru adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk menjadi agenda paling mendesak saat ini.
Teriakan kita masih diperlukan kawan ! Bukan sesuatu yang penting kita atau siapa yang menikmati hasil perjuangan ini ! Mungkin anak cucu kita kalau moncong senapan atau racun tentara tidak membuat kita mati muda !

Tulisan Lain:

 

Peranan Sains dan Teknologi Dalam Penentuan Bentuk Peradaban Baru

Etika Teknik dan Masa Depan Ummat Manusia

Membebaskan Pikiran Bukan Membebaskan Kelakuan

Kelahiran Mustakbirin Baru

Dari Dakwah Kampus, Humanisasi IPTEK hingga Matinya Reformasi

GIE dan Ekspektasi Bangkitnya Idealisme Borjuis Muda

Kesadaran Ilmiah, Religiusitas Ilmiah

Mencari Akar Intelektualitas IMM

Jama’ah Digital : Mailing List Muhammadiyah Society

The Underground Scienties

Pendidikan Tanpa Refleksi

“Sains Itu Berkembang !”

Universalitas dan Para Spesialis

Model Keberagamaan Orang Eksakta

Membangun Cyber-IMM yang Bermartabat

Membaca ‘Manivesto’ Muhammadiyah Terhadap Globalisasi

Islam dan Kerapuhan Bumi ini

Pencarian Otentisitas Sains Islam